Islamisme sebagai Gerakan Sosial: Antara Mesir, Iran, dan Aljazair
Oleh Arya Razmi
Secara umum, pergerakan tertentu yang bersumberkan ajaran Islam disebut Islamisme. Baik dalam bidang sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya. Penganut Islamisme meyakini bahwa Islam sudah mengatur segala aspek kehidupan, dan karena hal inilah sekularisme mereka tolak. Islamisme sebagian besar hadir di berbagai negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim. Seperti negara-negara di Afrika Utara, Timur Tengah, dan India. Pada kesempatan kali ini, penulis ingin memaparkan Islamisme dalam bidang politik di Aljazair, Mesir, dan Iran. Pergerakan politik di negara-negara tersebut banyak mempengaruhi pergerakan politik Islam di wilayah-wilayah di luarnya. Terutama Mesir dan Iran, pergerakan Islamisme yang mereka kembangkan berpengaruh pada beberapa pergerakan yang ada di Indonesia.
Pergerakan Islam tumbuh subur di
negeri Fir’aun. Mulai dari yang moderat hingga yang radikal. Gerakan Islamisme
pertama diprakarsai oleh Ikhwanul Muslimin (IM) yang didirikan oleh Hassan
al-Banna. Corak Islamisme yang ditampakkan Ikhwanul Muslimin pada masa
kepemimpinan Hassan al-Banna bersifat moderat, dengan metode pendidikan dan
dakwah. Tujuan berdirinya adalah mewujudkan negara Mesir berasaskan hukum
Islam. Namun seiring dengan pergantian kepemimpinan gerakan ini menjadi
radikal. Pada masa kepemimpinan Sayyid Qutb, corak pergerakan berubah menjadi
radikal. Sayyid Qutb menyatakan bahwa mereka harus merebut pemerintahan Mesir
dengan cara radikal seperti kudeta, dan mengganti konstitusinya berdasarkan
hukum Islam. Motif munculnya pemikiran ini disebabkan ketidakpuasan Qutb
terhadap pergerakan Ikhwanul Muslimin yang dinilai tidak efektif dalam
mewujudkan cita-citanya.
Akibat pemikirannya, Ikhwan terpecah
menjadi dua, yakni kubu Hasan al-Hudaibi dan kubu Sayyid Qutb. Sayyid Qutb dan
para pendukungnya mengalami persekusi oleh pemerintah, dan berakhir dengan
eksekusinya pada tahun 1966. Ikhwan pun terpaksa dibubarkan, dan para pendukung
Sayyid Qutb mendirikan beberapa organisasi yang lebih radikal salah satunya Jema’ah
al-Jihad.[1]
Pada masa Anwar Sadat, kelompok-kelompok Islam dimanfaatkan olehnya untuk
melegitimasi kekuasaannya. Cara-cara yang ditempuh adalah dengan membebaskan
anggota Ikhwan yang ditangkap pada masa Nasser serta mengamandemenkan
konstitusi Mesir dengan menjadikan Islam sebagai sumber hukum negara. Namun,
Sadat kehilangan dukungan akibat menyetujui perdamaian dengan Israel dan
membuka hubungan diplomatik dengannya. Kebijakan ini menimbulkan kekecewaan
bagi kelompok Islamis, baik yang moderat maupun radikal. Untuk menanggulangi
protes dari kelompok-kelompok tersebut, Sadat memenjarakan kembali aktivis
Islam. Akhirnya, pada Tahun 1981 Anwar Sadat dibunuh saat Parade Militer
perayaan kemenangan Perang Enam Hari oleh para anggota Jema’ah al-Jihad. Buah
dari peristiwa ini adalah kembali ditekannya pergerakan Islam, dan naiknya
Husni Mubarak sebagai Presiden selama 30 tahun (1981-2011).
Tahun 2011, terjadi
demonstrasi besar di alun-alun Tahrir, Kairo. Demonstrasi ini muncul akibat
dari kekecewaan masyarakat akibat krisis politik, ekonomi, dan sosial.[2]
Protes ini pun juga dipengaruhi oleh Arab Spring, yang berusaha menggulingkan
kekuasaan otoriter para pemimpin di dunia Arab. Berkat gerakan Ikhwan yang sudah mengakar di masyarakat dan
didorong oleh Arab Spring, mengantarkan Muhammad Mursi dari partai Ḥizb al-Ḥurriyyah wa-l-ʿAdālah (Partai
Kebebasan dan Keadilan) yakni partai politik IM naik menjadi Presiden Mesir. IM menjanjikan reformasi dan
perbaikan Mesir di berbagai bidang. Namun langkah yang diambil oleh IM menimbulkan masalah baru. Pemerintahan Mesir diubah
demi kepentingan terwujudnya cita-cita IM. Meski menang, Mursi dan IM dianggap
mementingkan kelompoknya dan mengecilkan peran oposisi. Maka pada tahun 2013,
Mursi dikudeta oleh militer di bawah pimpinan Abdel Fatah as-Sisi, sehingga
IM tidak berkuasa lagi di Mesir dan gerakannya dicekal kembali. Pemerintahan IM
di bawah Mursi hanya berlangsung selama kurang lebih setahun, dan kekuasaan
Mesir kembali dipegang oleh kalangan militer.
Berlanjut
ke salah satu negeri di Timur Tengah dengan penduduk mayoritas Islam tetapi
non-Arab, yakni Iran. Sejak Iran diambil oleh Dinasti Pahlevi, Iran memasuki
era modernisasi dan mengorientasikan diri untuk meniru Barat. Bahkan
perekonomian Iran dikontrol oleh Inggris dan Amerika, serta Syah Iran dianggap
sebagai boneka Barat. Usaha Muhammad Mossadegh untuk menasionalisasikan
perusahaan minyak yang beroperasi di Iran dihalangi oleh Syah Reza Pahlevi
sendiri. Pahlevi menggulingkan Mossadegh dengan bantuan SAVAK (polisi rahasia)
dan beberapa negara Barat, serta mengubah Iran dari Monarki Konstitusional
menjadi Absolut. Selain itu, Pahlevi berusaha mengadakan pesta besar dalam
merayakan 2.500 Kekaisaran Persia. Ambisinya ini menambah problem sosial dan
ekonomi rakyat Iran. Rakyat makin menderita sebab keegoisan Syah Reza Pahlevi.
Sejak
peristiwa itu, tuntutan untuk menggulingkan Pahlevi semakin menguat. Ali
Rahnema dalam bukunya menyebutkan bahwa Bapak Ideologi Revolusi Iran adalah Ali
Syari’ati.[3] Benih-benih
Revolusi Iran pada mulanya disemai oleh golongan kiri. Ali Syari’ati termasuk
di dalamnya, namun masih menonjolkan elemen-elemen Islam dalam gagasan dan
pergerakannya. Meski di kota-kota besar penduduknya kebarat-baratan, namun
sebagian besar penduduk Iran masih berpegang teguh dengan ajaran Islam Syi’ah.
Kegiatan intelektual keagamaan masih cukup subur di negeri itu, salah satunya
di kota Qum. Karena Islam masih menjadi ideologi grass root di mayoritas
masyarakat Iran, gerakan revolusi yang berasaskan Islam menjadi arus utama
dalam menggulingkan Syah Reza Pahlevi.
Ali Syari’ati
di banyak kesempatan memang menjadi sosok sentral dalam revolusi Iran. Tetapi,
ia wafat pada tahun 1978, setahun sebelum revolusi itu benar-benar
terealisasikan. Sosok Ali pun mulai digantikan oleh Imam Khomeini sebagai tokoh
penggerak revolusi Iran. Khomeini beberapa kali diasingkan pertama di Irak,
lalu Prancis akibat kritiknya yang tajam. Pengasingan tidak menghalangi
penyebaran pemikirannya. Karena sosok Khomeini dianggap berpihak pada rakyat
dan sosok Mullah masih menjadi pusat bergantungnya masyarakat Iran.
Akhirnya, komando Imam Khomeini dari Prancis berhasil menggulingkan Reza
Pahlevi pada tahun 1979. Ketika Khomeini tiba di Iran, ia disambut oleh seluruh
masyarakat Iran serta langsung merumuskan sistem pemerintahan Iran yang baru.
Pada tahun yang sama, monarki di Iran runtuh dan digantikan oleh Republik Islam
Iran dengan Ayatullah Imam Khomeini sebagai supreme leadernya.[4]
Islamisme di
bawah Ayatullah Khomeini secara institusi berhasil diterapkan, namun efektivitas
dan keberhasilan kebijakan untuk memperbaiki Iran baru terwujud setelah
wafatnya pada tahun 1989. Pada masa Ali Khamenei sebagai supreme leader,
dan Ayatullah Hasyemi Rafsanjani sebagai presiden, masalah ekonomi, sosial,
politik di era sebelumnya bisa diselesaikan. Pemerintahan Iran pun berhasil
menerapkan ideologi Islamisme sebagai pemecah masalah internal di negaranya.
Perkembangan industri minyak yang sempat terhambat dikembangkan pada masa
pemerintahan Rafsanjani. Dengan kendali pemerintah atas minyak, keuntungan yang
dihasilkan memberikan kesejahteraan kepada masyarakat Iran. Tidak seperti pada
masa Syah Reza Pahlevi, selain keuntungan minyak lari ke Amerika dan Inggris,
juga habis untuk kepuasaan pribadinya.
Di Afrika
Utara tepatnya di Aljazair, juga terjadi pergerakan berasas Islamisme. Aljazair
merdeka pada tahun 1962 setelah berperang selama delapan tahun (1954-1962) melawan
penjajahan Prancis. Setelah merdeka, Aljazair dikuasai oleh partai tunggal
yakni Front de Liberation Nationale (FLN/Front Pembebasan Nasional). Di
masa awal kemerdekaan, pemerintahan FLN pada masa Presiden Houri Boumediene
(antara 1965-1978) mendukung gerakan Arabisasi dan Islamisasi Aljazair sebagai
kelanjutan dari defrenchifikasi Aljazair. Namun, ketika kekuasaan
dipegang oleh Chadli Bendjedid, Aljazair diarahkan kembali untuk berkiblat
kepada Prancis. Hal ini pun menuai reaksi dari kelompok-kelompok berhaluan
Islam, selain karena mengkhianati cita-cita kemerdekaan, juga karena Aljazair
menjadi lebih sekuler. Kekecewaan masyarakat diperparah dengan krisis ekonomi
yang melanda. Krisis ekonomi ini ada akibat anjloknya harga minyak pada dekade
80-an. Hal ini segera dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok Islam sisa-sisa
perang kemerdekaan untuk merongrong pemerintahan Bendjedid.
Di tengah
kekacauan tersebut, di tahun 1988 Bendjedid memberikan kebebasan bagi oposisi
untuk mendirikan partai politik dan menyegerakan penyelenggaraan pemilu. Muncullah
partai oposisi terbesar yakni Front Islamique du Salut (FIS/Front
Keselamatan Islam). FIS membawa angin segar di perpolitikan Aljazair. Partai
ini menguasai suara mayoritas di berbagai pemilu daerah.[5] Karena
sebelum partai ini terbentuk, gerakan-gerakan Islam sudah mengakar di
masyarakat Aljazair. Ketika muncul wadah aspirasi yang sesuai dengan
nilai-nilai masyarakat, maka wadah tersebut menjadi magnet bagi mereka. FIS
dipimpin oleh dua sosok yakni Abbasi Madani sebagai ketua dan Ali Belhadj
sebagai sekertaris. Tetapi, partai ini memiliki kebijakan blunder, yakni
ketika menang pemilu nasional, partai ini akan mengganti bentuk negara dan
konstitusi Aljazair menjadi negara dan berhukum Islam. Memang pada kenyataannya
partai ini mendapat suara mayoritas di berbagai daerah, dan pada putaran
pertama pemilu nasional mereka mendapat 188 kursi di Majelis Rakyat Nasional.
Kemenangan FIS akan sempurna pada putaran kedua sebagai hasil final dari
pemilu. Namun secara tiba-tiba sebelum putaran kedua dimulai Bendjedid
mengundurkan diri dari kursi presiden serta kepemimpinan Aljazair direbut oleh
militer yang kemudian membatalkan pemilu.[6]
Abbasi
Madani dan Ali Belhadj ditangkap militer. Kemudian terjadilah perang saudara
antara kelompok kontra pemerintahan militer dan pemerintahan militer. Kelompok
yang kontra mayoritas berlatar belakang Islamisme. Seperti para pengikut FIS,
mantan mujahidin Afghanistan, dan Salafi Jihadis yang ada di Aljazair. Semua
saling bertempur, yang menciptakan segitiga permusuhan. Kelompok Islamis
non-FIS memusuhi pemerintah dan FIS secara bersamaan. Konsekuensinya adalah saling
memusuhi dan saling berperang satu sama lain. Peperangan terus berlanjut sampai
pada tahun 2004, kelompok-kelompok yang berperang memutuskan untuk melakukan
perdamaian. Berkat Abdelaziz Boutelfika, presiden yang menjabat dari tahun
1999, telah mewujudkan perdamaian di Aljazair. Pemerintahannya pun didukung
oleh FIS dan sebagian kelompok milisi Islam, meskipun ia dari kubu FLN. Di masa
ini, Aljazair mulai kembali pulih dari trauma perang saudara. Ekonomi pun
berkembang beriringan dengan kesejahteraan masyarakat.
Gerakan
Islamisme yang muncul di tiga negara tersebut berperan seperti gerakan kiri di
Barat. Basis-basis mereka adalah kaum-kaum miskin dan tertindas atau kaum
menengah ke bawah. Baik yang ada di perkotaan maupun di pedesaan. Islamisme
dapat menarik perhatian kaum menengah ke bawah sebab peran ulama yang sentral
bagi masyakarat. Mereka adalah orang terpelajar yang kebanyakan berasal dari
kelas sosial menengah ke bawah. Bahkan partai-partai kiri salah satunya Tudeh (komunis)
di Iran, mengekor ke pergerakan Islamisme Imam Khomeini. Islamismelah yang
menggerakkan masyarakat menuju revolusi, menyadarkan masyarakat, dan
membentengi masyarakat. Gerakan berbasis sosial di wilayah mayoritas muslim
tidak akan subur selama ulama penggerak masih ada.
Referensi
“Algeria
- Civil War, Islamists, Army | Britannica.” Accessed November 13, 2023.
https://www.britannica.com/place/Algeria/Civil-war-the-Islamists-versus-the-army.
Ali
Rahnema. Ali Syari’ati : Biografi Politik Intelektual Revolusioner.
Translated by Dien Wahid, Siti Nurul Azkiyah, Wakhid Nur Effendi. Jakarta,
2002.
Chris
Harman. NABI DAN PROLETARIAT Memahami Islam Fundamentalis Dari Perspektif
Kiri. Translated by Fathimah Fildzah Izzati. IndoPROGRESS, n.d.
Herdi
Sahrasad. “Pergolakan Mesir: Dari Revolusi ke Transisi Demokrasi.” Konfrontasi:
Jurnal Kultural, Ekonomi dan Perubahan Sosial 3, no. 2 (January 10, 2020):
42–55. https://doi.org/10.33258/konfrontasi2.v3i2.62.
Muhammad
Ichsan, Sayed, and Syarif Hidayatullah. “Revolusi Republik Islam Iran: Studi
atas Bentuk Pembaharuan Ayatollah Sayyid Ruhullah Musavi Khomeini.” Jurnal
Ekshis 1, no. 1 (April 11, 2023): 12–22.
https://doi.org/10.59548/je.v1i1.17.
Yoyo.
Pemikiran Arab: Dinamika Intelektual, Ideologi, Dan Gerakan. Yogyakarta:
SOCIALITY, 2017.
[1] Yoyo, Pemikiran Arab: Dinamika Intelektual,
Ideologi, Dan Gerakan.
[2] Herdi Sahrasad, “Pergolakan Mesir.”
[3] Ali Rahnema, Ali Syari’ati : Biografi
Politik Intelektual Revolusioner.
[4] Muhammad Ichsan and Hidayatullah, “Revolusi
Republik Islam Iran.”
[5] Chris Harman, NABI DAN PROLETARIAT Memahami
Islam Fundamentalis Dari Perspektif Kiri.
[6] “Algeria - Civil War, Islamists, Army |
Britannica.”

Komentar
Posting Komentar