Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2023

Teori Double Movement Fazlur Rahman: Mencari Hubungan antara Teks dan Konteks

Gambar
Oleh Afda Muhammad (Sumber: terasmedia.net) Secara umum, berangkat dari isu-isu global ( global issues ) berupa perekatan antara agama ( religion ) dan sains ( science ), kini berimplikasi kepada dua paradigma baru di tingkat global, yakni; Islamisasi keilmuan ( Islamization of knowledge ) dan saintifikasi Islam ( saintification of Islam ). Amin Abdullah memetakan, setidaknya ada tiga wilayah epistemologi hukum Islam yang perlu diintegrasikan secara triadik, yaitu epistemologi hukum Islam (tingkat) lokal, nasional, dan internasional (global). Maksud taraf internasional adalah beberapa tokoh pembaru paradigma keislaman mencoba merumuskan suatu teori untuk merespons perekatan antara agama dan sains, serta “rumusan teorinya” dikaji secara global. Mereka mencoba “merajut” dan “menghubungkan” keduanya agar terjalin secara damai. Di antaranya ada Louay Safi dengan teori Inferensi Tekstualis-Historis, Abdullah Saeed (Ijtihad Progresif), Jasser Auda (Teori Sistem), Arkoun ( at-Tatbiqiyyah al...

Pragmatisme di Barat: Tantangan Intelektual Islam

Gambar
Oleh Arfi Hidayat (Source: ismbook.com)           Pragmatisme di B arat muncul atas respon kompleksitas modernisme, sejak revolusi industi merebak di B arat, masyarakat urban pada saat itu kaget akan  perubahan yang tak terduga setelah revolusi industri meluncur dengan cepat. Industrialisasi, sekularisasi, urbanisasi, dan migrasi penduduk secara besar-besaran merupakan faktor sentral dalam alam kehidupan bangsa Amerika.             Pragmatisme sebagai suatu wacana filsafat teoritis lahir di Amerika pada akhir abad ke-19, seketika pemikiran ini banyak digandrungi pada abad itu, bahkan pemikiran ini dikatakan sebagai sumbangsih paling orisinil dari Amerika terhadap perkembangan filsafat dunia. Kenapa pragmatisme ini seketika mendapat perhatian yang luas karena pemikiran ini tidak berhenti pada wacana teoritis, namun lebih lanjut sebagai wacana pemetaan peradaban modern pada saat itu.   ...

Fundamentalisme Bukan Radikalisme: Menghilangkan Nalar Dikotomis sesama Muslim

Gambar
  Oleh Abil Arqam   (Sumber:  www.freeman-pedia.com)     Di tahun 1909-1915 sekolompok teolog Kristen di Amerika mencoba menyebarluaskan sebuah risalah berjudul The Fundamentals: A Testimony to The Truth , yang   berisi definisi dan keyakinan mereka atas doktrin dasar kekristenan. Mereka mencoba memurnikan k embali ajaran keagamaan Kristen sebagai respon atas modernitas yang menurut mereka menggerus nilai-nilai ajaran tersebut. Mereka ialah kaum P rotestan Evangelis konservatif yang memahami teks-teks Alkitab secara harfiah dan dengan dogma bahwa hukum Allah adalah satu-satunya hukum yang sempurna. Maka dari sinilah, kata-kata fundamentalisme mencuat dan mulai marak digunakan. Doktrin dasar dan utama dari g erakan ini ialah umat Kristen sejati harus tetap terpisah dari dunia yang tidak murni dan rusak. Gerakan ini pun mulai menjauhi arena-arena politik,   karena beranggapan bahwa dunia perpolitikan penuh dengan dosa. Istilah fundamentalism...