Paradigma Keilmuan Integralistik Kuntowijoyo
Oleh Muhammad Alfathan
(Sumber: koropak.co.id)
Biografi
Faktor lingkungan dan pendidikan memegang peranan penting dalam membentuk seseorang menjadi tokoh atau pemikir yang menghasilkan gagasan-gagasan yang pencerah. Hal ini tidak mengabaikan peran bakat yang dimiliki individu tersebut. Proses ini juga bisa diamati dalam perjalanan hidup Kuntowijoyo. Kehadiran Kuntowijoyo dengan berbagai karya seni dan akademis, serta orientasi pemikirannya, dapat ditelusuri kembali ke pengaruh lingkungan tempat ia tumbuh dan berkembang, termasuk keluarga, masyarakat, dan pendidikan yang diterimanya.
Kuntowijoyo lahir pada tanggal 14 Oktober 1943 di Yogyakarta. Ia tumbuh dalam lingkungan yang kaya akan budaya dan pemikiran. Ayahnya, seorang sarjana hukum yang juga seorang penulis, memberikan pengaruh besar dalam pembentukan minat dan pemikiran Kunto di masa mendatang. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di Yogyakarta, Kuntowijoyo melanjutkan studinya di Universitas Gadjah Mada di kota yang sama. Ia kemudian melanjutkan pendidikan pascasarjana di Universitas Indonesia, memperoleh gelar Doktor dalam bidang Sastra Indonesia pada tahun 1985.
Kuntowijoyo dikenal karena kontribusinya dalam memperkaya wawasan intelektual Indonesia, terutama dalam menggali dan menafsirkan warisan budaya lokal serta mengaitkannya dengan pemikiran universal. Salah satu spirit yang menjadi fokus pemikirannya adalah konsep "keindonesiaan" yang mencakup identitas, budaya, dan nilai-nilai yang menjadi landasan keberadaan bangsa Indonesia. Pemikiran Kuntowijoyo juga sering mengulas tentang isu-isu sosial dan politik kontemporer. Ia memiliki pandangan kritis terhadap berbagai fenomena sosial dan politik yang terjadi di Indonesia, dan seringkali menyajikannya dengan pendekatan filsafat yang mendalam.
Kuntowijoyo adalah figur yang sangat dihormati dalam dunia intelektual Indonesia. Kontribusinya dalam membangun pemikiran tentang identitas dan budaya Indonesia telah memberikan pengaruh yang mendalam bagi perkembangan intelektual di negeri ini. Meskipun beliau telah meninggal pada tahun 2005, warisan pemikiran dan karya-karya tulisnya terus menjadi sumber inspirasi bagi generasi intelektual Indonesia saat ini dan di masa mendatang.
Berbeda dengan banyak pengarang lain yang memulai karir mereka dengan menulis puisi dan kemudian beralih ke prosa, Kuntowijoyo menempuh jalur sebaliknya. Sejak masih remaja di SMA, ia telah aktif menulis cerita pendek, drama, esai, dan novel. Baru setelah pergi ke Amerika Serikat untuk menempuh pendidikan tingkat master dan doktor, Kuntowijoyo mulai menulis puisi. Pada saat yang bersamaan, ia menerbitkan dua kumpulan puisi, yaitu Isyarat (1976) dan Suluk Awang Uwung (1976). Karyanya yang berupa cerpen telah dimuat di majalah Horison, harian Kompas, dan beberapa di antaranya diangkat sebagai cerpen terbaik, termasuk Laki-laki yang Kawin dengan Peri (1994), Sampan Asmara, dan Pistol Perdamaian (1995). Selain itu, tulisan- tulisannya dalam bentuk esai juga sering kali diterbitkan di berbagai surat kabar.
Wilayah dan Karakteristik Pemikiran
Sebagai seorang intelektual atau sastrawan yang menyandang gelar akademik, Kuntowjoyo memiliki cakrawala pemikiran yang luas. Jika dilihat dari berbagai karyanya, setidaknya pemikiran Kuntowijoyo dapat dikategorikan menjadi tiga wilayah pemikiran, yakni; (1) pemikiran yang terdapat dalam tulisan-tulisan di bidang sejarah (ahli); (2) pemikiran yang terdapat dalam tulisan-tulisan di bidang sosial-budaya, politik, dan keagamaan; serta (3) pemikiran Kunto yang dituangkan dalam tulisan-tulisan berbentuk sastra. Ketiga bentuk tulisan tersebut cukup untuk menggambarkan bahwa Kuntowijoyo adalah seorang sejarawan, budayawan, pengamat sosial-politik, sastrawan, sekaligus agamawan yang banyak mendapat apresiasi, sehingga dijadikan motivasi oleh tiap-tiap orang yang menekuni di salah satu bidang tersebut.
Dalam bidang sejarah, sebagaimana Kunto memilih sebagai studi formal yang ditekuni sejak tingkat sarjana sampai doktoral, ia dinilai sangat metodologis. Misal, dalam disertasinya tentang sejarah Madura, Kuntowijoyo mengupayakan sebuah pendekatan diakronik (memanjang dalam waktu) dengan pendekatan sinkronik (melebar dalam ruang), di mana para sejarawan biasanya hanya menggunakan salah satu dari penekatan tersebut. Karakter pemikiran di bidang sejarah inilah yang melahirkan ide-ide di bidang sosial. Karena Kuntowijoyo bukan tipe sejarawan yang hanya memotret peristiwa di masa lalu, tapi ia mencoba menggali ide atau pola kesejarahan yang terdapat di sejarah tertentu. Demikian, pola-pola itu menjadi kerangka yang ia gunakan sebagai bangunan pemikirannya.
Berikutnya, Kuntowijoyo jika dilihat dari bidang sosial kebudayaan dan keagamaan ialah orang yang cukup konsisten untuk menerapkan nilai-nilai spritual dan transendental dalam pemikirannya. Menurutnya, tugas muslim adalah selalu melakukan aktivitas ibadah dalam bentuk apa pun, sehingga ia akan dinilai menjadi seseorang yang menjalankan agamanya secara Kaffah. Dalam hal ini, Kunto sebagai pengamat dan penulis tentu mendorong pribadinya untuk menjadikan media kepenulisan sebagai medan beribadah. Termasuk jika dikaitkan dengan bidang sebelumnya, Kunto menemukan karakteristik perkembangan pengetahuan umat Islam. Yakni tahap mitos, ideologi, dan tahapan ilmu. Namun, ketiga tahapan ini hanya sebagai cara berpikir, sehingga tidak boleh dimaknai secara linear. Bahwa ketiga tahapan tersebut bisa datang dalam pikiran seseorang kapan saja.
Tahapan mitos adalah tahapan pemikiran pralogis yang sering kali bercorak magis dan dipengaruhi oleh pertimbangan emosional. Menurut Kunto, mitos merupakan konsep tentang realitas yang meyakini bahwa dunia sehari-hari kita selalu diwarnai oleh kekuatan-kekuatan gaib. Pola pikir mitos ini ditandai dengan cara berpikir pralogis yang mengandalkan unsur mistis dan magis, seringkali melibatkan pemberontakan terhadap pedesaan, memiliki ciri lokal, latar belakang ekonomi agraris, serta masyarakat petani dengan solidaritas mekanis, yang dipimpin oleh tokoh karismatik (rural). Di sini Kunto sangat mengkhawatirkan kondisi umat Islam yang dinilai jauh dari ajaran murni, sehingga menyebabkan ketertinggalan dalam aspek apapun.
Kunto melihat terdapat
lima jenis mistik yang memengaruhi umat beragama, khususnya dalam agama Islam, yakni mistik metafisik, sosial, etis, penalaran, dan kenyataan. Mistik
metafisik melibatkan penyatuan diri dengan Tuhan, baik dalam aspek substansi maupun atribut. Mistik sosial
terjadi saat individu menyatu dengan kelompok
yang lebih besar. Mistik etis terjadi ketika
seseorang menyerah pada takdir. Mistik penalaran
terjadi saat akal seseorang tidak mampu memahami kejadian di sekitarnya. Sedangkan
mistik kenyataan melibatkan kehilangan hubungan antara
agama dengan realitas.
Menurutnya, mistik kenyataan adalah yang paling relevan dengan umat manusia saat ini. Agama telah kehilangan keterhubungannya dengan realitas dan kehidupan aktual, sehingga teks-teks agama pun kehilangan konteks. Untuk mengatasi masalah ini, perlu dilakukan demistifikasi dengan menghubungkan kembali agama dengan realitas. Demistifikasi adalah upaya untuk melihat realitas tidak dengan bayang-bayang mistis. Ini juga berarti mengorespondensikan teks agama dengan konteks aktual. Dengan demikian, umat akan lebih memahami lingkungan fisik, sosial, simbolis, dan sejarah, yang nantinya disebut oleh Kuntowijoyo sebagai pengilmuan Islam.
Tahapan ideologi ditandai dengan kemunculan organisasi modern dengan ciri khas subjektif, memiliki tujuan kolektif tertentu, dan cenderung kaku dalam menghadapi kenyataan. Perubahan terjadi dalam kepemimpinan, dari elit desa menjadi elite kota (urban). Ada perbedaan antara mitos dan ideologi. Dalam mitos, orang mengikuti pemimpin tanpa pertimbangan yang jelas, sementara dalam ideologi pertimbangan-pertimbangan sangatlah penting. Mitos cenderung acuh terhadap fakta, sementara ideologi melihat fakta sosial secara subjektif. Dalam mitos, pertimbangan didasarkan pada emosi, sedangkan dalam ideologi pertimbangan lebih kalkulatif. Dalam tahap ideologi, orang bertujuan membangun kembali masyarakat sesuai dengan visi yang disepakati secara kolektif.
Selanjutnya adalah tahapan ilmu, memiliki sifat yang benar-benar berbeda dengan mitos dan ideologi. Ilmu cenderung lebih objektif dalam memahami realitas. Jika ideologi terlihat kaku dalam menghadapi kenyataan, maka dengan ilmu menjadi lebih dinamis dan fleksibel ketika dihadapkan dengan realitas. Marhaenisme mengalami kesulitan dalam menghadapi realitas baru seperti pertumbuhan kelas menengah dan atas. Komunisme, bahkan Marxisme, tidak mampu mengatasi kegagalan sistem ekonomi komando. Bagi Kunto, menggantikan cara berpikir ideologi dengan ilmu adalah suatu kebutuhan yang tidak bisa dikompromikan lagi.
Kuntowijoyo merumuskan sebuah paradigma ilmu sosial Islam yang dikenal sebagai Ilmu Sosial Profetik. Paradigma ini bertujuan menjadi pedoman dan arah bagi perkembangan umat di masa depan, serta menghapuskan mitos dan ideologi yang menghalangi kemajuan umat Islam. Fokus utama Ilmu Sosial Profetik adalah pembebasan umat, yang konkret dan berdasarkan sejarah, dengan menghubungkannya dengan masalah-masalah aktual yang dihadapi. Masalah saat ini adalah bagaimana membimbing umat dalam proses transformasi menuju masyarakat industri, masyarakat sipil, ekonomi yang tidak mengeksploitasi, masyarakat demokratis, negara yang rasional, dan budaya yang manusiawi.
Baginya, ilmu sosial tidak hanya berkutat pada pemahaman
dan penjelasan terhadap realitas,
melainkan juga memiliki
tanggung jawab untuk melakukan transformasi menuju cita-cita masyarakat yang emansipatoris. Kuntowijoyo merumuskan tiga nilai
dasar yang menjadi landasan bagi Ilmu Sosial Profetik, yaitu (1) humanisasi, (2) liberasi,
dan (3) transendensi. Konsep ini kini telah menjadi bahan kajian yang luas, termasuk dalam perkembangan sosiologi, di mana muncul konsep Sosiologi
Profetik yang mengadopsi paradigma Ilmu Sosial Profetiknya Kuntowijoyo.
Demikian, konsep profetik itu menjadi pedoman Kunto dalam menyusun teks- teks sastranya. Dalam karyanya, Kunto selalu menonjolkan muatan-muatan transendental
yang secara konsisten ia sampaikan dalam berbagai kesempatan. Bagi Kunto, semua karya sastra memiliki
dimensi transendental, jika dilihat dari sudut pandang
teologis dan metafisik. Ia
berusaha untuk menggabungkan tiga jenis sastra
utama, yakni sastra pembebasan, sastra kemanusiaan, dan sastra
transendental, menjadi apa yang disebutnya sebagai
sastra profetik, yang dalam konteks
ini bermakna meneruskan tradisi kerasulan. Manusia
diharapkan untuk menjalankan amar ma’ruf dan nahi
munkar. Amar ma’ruf bertujuan
untuk mengangkat martabat manusia, sementara
nahi munkar berfokus pada
upaya pembebasan, dan keyakinan kepada Tuhan memiliki dimensi transendental. Melalui sastra profetiknya, Kunto telah
menyumbangkan dan memperkaya wawasan
sastra religius yang lebih berorientasi pada pencerahan dan tidak semata-mata tertuju pada urusan spiritual semata.
Jika diperhatikan lebih teliti, nampak
karakteristik pemikiran Kuntowijoyo yang selalu
konsisten dan saling terkait antara satu bidang dengan bidang keilmuan lainnya. Struktur pemikiran Kunto selalu menghasilkan kerangka teoritis, strategis, metodologis, dan aplikatif. Kunto selalu menekankan
pentingnya sebuah ilmu yang bisa menjawab berbagai persoalan kehidupan saat ini. Khususnya dunia Islam yang sedang
terkena virus kemandekan dalam menyusun keilmuan
terbaru yang sesuai dengan konteks zamannya.
Maka, bagi Kunto hal itu tidak mungkin muncul ke permukaan kecuali para pemikir
Islam mau menemukan
teori-teori dari ruh al-Qur’an yang strategis, sesuai dengan
permintaan zaman, yang metodologis tidak asal mengilmiahkannya saja, dan yang aplikatif bisa tersublimasi dalam realiatas kehidupan
umat manusia.
Alur Terbentuknya Paradigma Integralistik
Banyak pemikir muslim menggunakan ilmu-ilmu yang berkembang di Barat sebagai referensi bagi dunia Islam dalam menghadapi tantangan modernitas karena umat Islam tertinggal di bidang ilmu ini. Mereka percaya bahwa ilmu adalah alat neutral yang dapat digunakan oleh siapa saja. Mereka percaya bahwa masalah ilmu yang dihadapi umat Islam dapat diselesaikan dengan menyebarkan ilmu dari Barat ke dunia Islam. Pandangan ini dikenal sebagai netralitas ilmu, dan beberapa pemikir Muslim mengkritiknya tajam. Mereka berpendapat bahwa peradaban dan ilmu modern harus dievaluasi karena terlalu banyak mengandung nilai, budaya, dan kepentingan Barat dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan material, kultural, dan spiritual manusia, terutama bagi orang Islam.
Pada saat ini, ada dua model keilmuan yang berkembang di dunia Islam. Apa yang disebut sebagai "dikotomi ilmu" adalah kelompok ilmu-ilmu yang terbagi menjadi dua kelompok. Yang pertama bertahan dengan model ilmu-ilmu keislaman klasik, yang memiliki banyak nilai-nilai Islam, tetapi sangat terbatas dan tidak relevan dengan kebutuhan masyarakat. Yang kedua mengadopsi ilmu-ilmu Barat, yang dianggap relevan dengan dunia saat ini, tetapi berdasarkan nilai-nilai yang berbeda dengan Islam. Gagasan ilmu yang integralistik muncul sebagai jalan tengah untuk mengambil keuntungan dari kedua model keilmuan di atas. Ilmu integralistik yang dimaksud di sini adalah model keilmuan yang tidak hanya memiliki nilai dan ruh Islam, tetapi juga relevan dengan tuntutan umat Islam dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan yang semakin kompleks. Nilai-nilai Islam yang melekat pada ilmu-ilmu keislaman adalah bagian positif dari ilmu-ilmu Barat.
Dalam proses yang dikenal sebagai pengilmuan Islam, paradigma Islam berfungsi sebagai dasar bagi bangunan ilmu integralistik Kunto. Pengilmuan Islam bertitik tolak dari Islam itu sendiri, yaitu al-Qur’an, sebagai basis pengembangan teori ilmu. Kunto melihat gagasan ini sebagai antitesis dari Islamisasi ilmu, yang merupakan upaya intelektual dari Barat ke dunia Islam, dan pengilmuan Islam adalah upaya intelektual dari dalam Islam ke dunia luar. Kunto menetapkan al-Qur’an (ayat-ayat qauliyyah) sebagai dasar paradigma Islam dari tiga sumber ilmu: ayat-ayat insaniyyah, ayat-ayat kauniyyah, dan ayat-ayat qauliyyah. Karena itu, al-Qur’an didekati dengan dua cara. Metode sintesis berfokus pada pesan-pesan al-Qur’an yang terkait dengan kisah atau amtsal, sedangkan metode analitis berfokus pada ide-ide penting yang ditemukan dalam al-Qur’an. Paradigma Islam menawarkan konsep integralisasi dan objektifikasi dari perspektif metodologis. Objektifikasi, yang berarti produk ilmu harus benar-benar objektif dan integralisasi berarti pemaduan antara ilmu wahyu dan hasil penelitian manusia.
Referensi
Kuntowijoyo, Islam sebagai Ilmu, Epistemologi, Metodologi, dan Etika.
Maklumat Sastra Profetik.
Muslim Tanpa Masjid: Esai-esai Agama, Budaya, dan Politik dalam Bingkai Strukturalisme Transendental.
Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi.
Selamat Tinggal Mitos, Selamat Datang Realitas.
Wan Anwar, Kuntowijoyo: Karya dan Dunianya.

Komentar
Posting Komentar