Melihat Orientalisme dalam Kacamata Intelektual Islam: Antara Kritis dan Apologetis

Oleh M. Ihza Fazrian


Pendahuluan
        Dunia yang semakin modern dengan segala kemajuan yang mengiringinya menuntut segala hal “wajib” untuk menyesuaikan diri dengan zaman. Begitu juga pemikiran agama dengan segala dimensinya. Agama Islam sebagai agama yang penganutnya juga turut mendominasi dunia, tidak bisa dilepaskan sebuah realita bahwa penganutnya sangat yakin dengan dogma-dogma yang lahir dari agamanya. Ini menyatakan bahwa mereka juga dapat ikut andil dalam memberi sumbangsih pada dunia yang modern ini. Kalau kita masuk kepada hal yang mendasari semangat orang-orang Muslim tersebut, nampaknya yang paling cocok adalah kalimat al-Islamu syamilun likulli zamaanin waa makannin, Islam itu cocok di manapun dan kapanpun.

       Namun bila kita merenungkan sejenak kalimat tadi, muncul berbagai pertanyaan yang menuntut pertanggugjawaban atas kalimat yang orang muslim selalu ucapkan tentang kesesuaian semangat tadi. Apakah Islam benar-benar dapat menyesuaikan diri di manapun dan kapanpun? Bagaimana kira-kira bukti bahwa hal itu benar? Sebagai seorang Muslim, penulis juga merasa hal ini penting karena nilai-nilai Islam tidak membenarkan kemunafikan merajalela, dengan salah satu cirinya adalah “kalau berbicara, berbohong”.

Intelektual Islam dan Orientalisme

        Pemikiran Islam yang semakin berkembang dan penuh akan berbagai interpretasi baru, harus disikapi dengan secara ilmiah. Bahkan pemikiran tersebut hadir dari kalangan yang bukan beragama Islam. Islam sebagai agama secara historis muncul di “Timur”, menjadikan ia masuk dalam objek kajian yang dikenal dengan Oriental studies (kajian tentang Timur). Berbicara tentang hal tersebut perlu bagi kita untuk mengerti terlebih dahulu tentang empat hal, yaitu: oriental “timur”, oriental studies “kajian ketimuran“,  orientalis “pengkaji ketimuran“, dan orientalisme sebagai paham yang menjadikan timur sebagai objeknya.

      Mengerucut pada Islam sebagai objek kajian, memberikan berbagai penemuan baru yang dimunculkan oleh para pengkaji yang berasal dari luar agama ini. Dari penelitian mereka tentang bahasa Arab sebagai bahasa yang terdapat pada sumber primer, sosok Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah, ilmu interpretasi al-Qur’an, hingga pemikiran tokoh secara khusus. Semua itu dikaji oleh para orientalis dan banyak memberikan sumbangsih baru terhadap kekayaan intelektual agama ini.

            Mari kita ambil sampel bagaimana seorang Karen Amstrong membuat biografi Nabi Muhammad yang sangat humanis ketika kasus penyerangan 9/11 di Amerika demi membuktikan bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad tidaklah bersifat radikal dan menjadikan pemeluknya teroris. Malah membuat sebagian orang yang memiiki kecenderungan “islamofobia” tersadar.  Atau Michael Cook yang sempat skeptis dengan metodologi sirah nabawiyah yang ditulis oleh Ibn Ishaq, namun malah menemukan e-salentio (bukti bisu) sebagai representasi bahwa sosok Nabi Muhammad itu nyata dan bukan karangan. Hal itu semua harus kita apresiasi karena dengan merekalah Islam dapat dipertanggungjawabkan ajarannya dan memberikan kita hal baru dalam melihat Islam.

        Memang harus diakui bahwa, tidak selamanya mengkaji secara objektif itu selalu memberikan dampak positif. Misalnya dengan masuknya Snouck Hurgronje ke Aceh menjadikan daerah tersebut dapat dikuasai oleh Belanda. Ataupun ketika sebagian orientalis lain yang terlalu “memanusiakan” sosok Nabi Muhammad menjadikan dimensi kenabiannya sirna bahkan dituduh “cabul” karena dianggap menikahi Aisyah di usia yang terlalu muda. Kiranya hal ini juga memberikan kesan ironi tersendiri bagi kalangan Muslim dalam memandang orientalisme.

         Mengutip Al Makin dalam karyanya Menolak Kesempurnaan: Berbicara dan Bertutur tentang Islam, bahwa para orientalis dengan segala karya mereka yang bertaraf internasional tidak memberi efek apapun terhadap dimensi spritualitas masyarakat Muslim. Ambillah contoh ketika seorang Annemarie Schimmel menulis tentang luasnya dimensi mistik dalam Islam. Kiranya tidak dapat dibandingkan ketika seorang kiai kampung mengajarkan amalan zikir yang sebatas kalimat “Laa Ilaha Illaallah”. Oleh karena itu penulis memiliki kecondongan bahwa karya orientalis lebih baik menjadi acuan para Muslim scholars dan inspirasi bagi Barat itu sendiri dalam mengenal Islam.

            Perlu penulis tekankan di sini bahwa dalam dunia akademik, terlebih kita yang berfokus pada studi Islam harus memandang hal tersebut secara jujur dan objektif. Meskipun terkadang dapat menyulut emosi bila seluruh karya para orientalis hasilkan cenderung mendiskreditkan Islam. Perlu diingat dan direnungkan bahwa kita bukan hanya berposisi sebagai penganut agama saja. Di sini kita juga berhak untuk mengkaji agama kita sendiri. Penulis beranggapan bahwa wacana yang hadir dari orientalisme sebenarnya muncul sebagai bentuk atas keobjektifan. Kendati pada akhirnya ada dimensi-dimensi lain yang memberikan dampak negatif atas kajian mereka. Nampaknya sebagai Muslim scholars menuntut kita untuk mengapresiasi keobjektifan mereka bahkan memanfaatkan penemuan yang mereka temukan sebagai hal baru, namun tetap mengkritisi hal-hal yang sepertinya perlu mereka pertanggungjawabkan jika memberikan dampak negatif.

            Sebagai muslim scholar, adalah suatu hal yang sangat ditentang dalam ajaran Islam bila kita terlalu bersikap tidak peduli atau lebih parahnya membenci penemuan-penemuan yang lahir dari rahim orientalisme. Mengapa? Hal ini karena boleh jadi kita terlalu jumud dan tidak menerima berbagai hal baru yang seharusnya memperkaya dunia Islam itu sendiri. Mengutip pendapat Lutfhi as-syaukanie bahwa dahulu untuk mencapai renaissance, orang-orang Barat tidak menutup diri atas penemuan-penemuan yang dihasilkan oleh intelektual Muslim. Mereka mengkaji dan mengembangkan segala hal yang hadir dari pemikiran intelektual Islam, bahkan melampaui para intelektual itu sendiri. Artinya jika Islam ingin maju, kita harus melihat juga penemuan-penemuan yang dihasilkan oleh Barat sekarang, terkhusus yang berkaitan dengan khazanah keislaman.

                Melihat potensi yang dihasilkan oleh para orientalis, agaknya kita perlu untuk masuk lebih jauh dari mereka. Yakni dengan para sarjana Muslim yang hadir dari Barat sehingga memberikan banyak sumbangsih terhadap pemikiran Islam. Kita bisa ambil sampel di antara tokoh-tokoh tersebut, misalnya Harun Nasution dan Nurcholis Madjid. Kalau kita melihat sosok Harun Nasution dengan pembaharuan Islamnya lewat perguruan tinggi, Nurcholis Madjid dengan pemikiran Islam inklusif, wacana menemukan kesetaraan antarperadaban, hingga berangkat dari nilai-nilai Islam untuk keindonesiaan.

            Di sini penulis mengajak agar kita mau untuk bersikap terbuka terhadap hal apapun. Membuka agar mental ijtihad yang nampaknya sudah lama ditutup kembali dibuka. Bagi penulis suatu hal memalukan kalau kita tidak bisa menghasilkan produk baru yang berasal dari khazanah pemikiran kita sendiri. Sepertinya sudah cukup kita hanya sinis melihat Barat dengan segala penemuan-penemuan barunya mengenai Islam. Dan malah menuduh mereka sebagai antek asing atau apapaun itu yang mengarah pada sentimen negatif. Apalagi yang lebih parahnya malah menuduh para sarjana Muslim yang belajar di Barat telah dicuci otaknya. Pikiran tersebut lebih cocok disematkan pada masyarakat awam yang hanya berposisi sebagai penganut, karena mereka hanya berkutat pada dimensi keimanan.


Referensi

  • Assyaukanie, Luthfi. (2007).  Islam benar vs Islam salah. Jakarta: KataKita.
  • Makin, Al. (2002). Anti-Kesempurnaan: Membaca, Melihat, dan Bertutur tentang Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fikih Lingkungan Hidup (Fiqh al-Bī‘ah) Ali Yafie sebagai Pandangan Hidup Berkelanjutan

Teori Double Movement Fazlur Rahman: Mencari Hubungan antara Teks dan Konteks

Qira’ah Mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir: Reinterpretasi Teks-teks Relasi Perempuan dan Laki-laki