Tinjauan Kritis Syakib Arsalan: Orang Islam Mundur dan Lainnya Maju

 Oleh Arya Aulia Razmi

Salah seorang muballigh hijrah dari Mesir bernama Syekh Muhammad Basiyuni ‘Imran, yang dikirim ke daerah Sambas di pulau Kalimantan pada tahun 1929 M. Mengirimkan surat kepada Syekh Rasyid Ridha yang berisi pertanyaan kenapa umat Islam lemah sedangkan negara-negara Eropa, Amerika, dan Jepang mengalami kemajuan. Meski surat ini dialamatkan kepada Syekh Rasyid Ridha, namun penanya meminta al-Amir Syakib Arslan untuk menjawab pertanyaannya.

Syekh Muhammad Basiyuni Imran dalam suratnya lebih rinci mempertanyakan kemana perginya kegemilangan kaum muslim, dan berhakkah kaum Muslim merasa perkasa walau dalam keadaan hina serta tertindas? Sebab munculnya pertanyaan ini juga berdasarkan renungan Syekh Muhammad Basiyuni Imran ketika membaca potongan ayat surat al- Munafiqun ayat 8 yang artinya “Kekuatan atau Keperkasaan itu hanyalah bagi Allah, rasul-Nya, dan bagi orang-orang Mukmin”. Lalu apakah dengan mengikuti jejak bangsa-bangsa besar selain Islam yang sedang menaiki tangga kemajuan peradaban kaum Muslim juga bisa seperti mereka?

Ketika pertanyaan ini sampai di tangan al-Amir Syakib Arslan, beliau membuahkan sebuah karya yang sampai sekarang dijadikan sebagai salah satu renungan bagi umat Islam dalam ketertinggalan mereka di dunia modern. Beliau memberi judul karyanya dengan nama Mengapa Umat Islam Tertinggal, dan Mengapa selain Mereka Mengalami Kemajuan?”. Buku ini juga diterbitkan oleh majalah Al-Manar yang pada masanya sangat mempengaruhi proses reformasi kaum Muslim di seluruh dunia Islam. Lebih lanjut akan penulis rangkum dan jelaskan apa saja poin-poin yang dituangkan beliau dalam karyanya ini tentang sebab-sebab kemunduran Islam dan bagaimana agar umat Islam bisa kembai menduduki tahta kemajuan peradabannya.

Amir al-Bayan Syakib Arslan memiliki pandangan bahwasanya sebab kemunduran Islam adalah hilangnya semangat beragama pada diri seorang Muslim. Islam sebenarnya tidak hanya sebagai nama sebuah agama, namun juga sebagai gerakan. Seperti kemajuan Islam di masa lampau adalah buah dari ajaran-ajaran Islam yang diaplikasikan dalam bentuk pergerakan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan luasnya wilayah kekuasaan kaum Muslim adalah contoh bukti keberhasilan umat Muslim ketika benar-benar menjalankan agamanya. Al-Quran haruslah kembali dijadikan modal utama umat Islam dalam meraih kegemilangannya lagi. Namun ada pertanyaan lain yang muncul, kenapa bangsa Eropa maju setelah meninggalkan agamanya?

Bangsa Eropa maju bukan karena mereka meninggalkan agama, namun karena mereka memunculkan jiwa dan mentalitas seperti umat Islam padaperiode keemasan. Seperti mementingkan perkembangan ilmu pengetahuan, pengorbanan diri demi kemajuan bangsa berupa jiwa dan harta, serta mentalitas yang selalu mencari kekurangan untuk dikoreksi ke depannya. Kalaulah kita melihat kembali sejarah bangsa Eropa pada masa Renaisans hingga era revolusi industri, maka dapat kita temui pada masa-masa tersebut para inteleknya mereka mempunyai ciri-ciri tersebut dan kita dapat melihat hasilnya seperti bermunculan ragam ideologi, penemuan, teknologi, dan kemajuan ilmu pengetahuan. Lalu kenapa agama disangkutpautkan dengan kemajuan dan kemunduran orang Eropa? Lebih lanjut akan saya jabarkan dalam bahasan faktor-faktor kemunduran Islam.

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kemunduran umat Islam di dunia modern. Beberapa faktor tersebut adalah (1) kebodohan, al-‘ilm an- naqis (pseudosains), (2) kerusakan moral umat Islam dan para pemimpinnya, sifat pengecut (inferiority complex), (3) rasa keterbelakangan dan syubhat yang dimunculkan darinya, (4) rasa putus asa dan keterputusan akan Rahmat Allah, (5) lupanya umat akan kegemilangan masa lampau mereka, (6) konservatisme yang menutup peluang majunya Islam.

Dari sekian faktor-faktor tadi penulis hanya akan membahas beberapa poin saja, sedangkan beberapa poin akan tercukupi pembahasannya di dalam poin-poin yang sudah dijelaskan karena kesamaannya. Secara umum memang sebuah peradaban akan mengalami kemajuan ketika ilmu pengetahuan tersebar mereka di masyarakatnya. Kalau boleh merujuk pendapat ideologi Kiri Baru, para intelektual adalah agen perubahan. Al-‘Ilm an-Naqis atau bisa disebut dengan “pseudosains” artinya adalah suatu hal yang dianggap sudah ilmiah namun secara faktual tidak. Seperti contohnya orang-orang India ketika pandemi Covid-19 yang lebih percaya kotoran sapi adalah obat yang manjur untuk mencegah individu tertular virus ini. Hal-hal sejenis inilah yang masih semerbak di kalangan umat Islam hingga sekarang. Asumsi-asumsi yang tidak tervalidasi oleh fakta banyak dijadikan pegangan oleh kaum Muslim dalam keseharian mereka. Lebih spesifik penulis akan mengomentari orang-orang konservatif yang mengganggap bahwa hanya madu, habbat as-sauda, dan bekam adalah solusi segala penyakit. Padahal umat Islam terdahulu sudah berhasil menemukan metode pengobatan lain dan metode operasi yang terbukti berhasil dalam meningkatkan kualitas kesehatan manusia pada zamannya dan terus digunakan hingga sekarang. Anggapan para koservatif hanyalah sebagian metode dan cara pencegahan untuk beberapa penyakit.

Kerusakan moral baik pada diri umat secara umum dan para penguasa Muslim secara khusus sangat marak ditemui di dunia Islam pada era modern. Seperti ungkapan terkenal dari Muhammad Abduh “Aku melihat Islam di Eropa namun tidak ada Muslimnya, sedangkan aku melihat Muslim di Timur namun tiada Islam di sana”. Contoh sederhana rusaknya moral umat Islam adalah ketika Muhammad Abduh melihat orang Islam malah kencing sembarangan padahal ajaran Islam mengajarkan menjaga kesucian dan privasi ketika sedang buang hajat. Contoh khusus di Mesir yang mana adalah tempat tinggalnya para tokoh-tokoh yang terlibat dalam terbitnya buku yang kita bahas ini mengalami hal yang parah.


Pada abad ke-19 ada proyek besar kerjasama antara Prancis dan Mesir yaitu pembangunan Terusan Suez yang mana pemimpin Mesir pada saat itu melakukan kerja paksa terhadap rakyatnya untuk menyukseskan proyek ini. Di Indonesia juga terjadi ketika pada masa penjajahan saat proyek jalan raya Anyer-Panarukan. Daendels ternyata memberikan upah bagi para pekerja proyek ini yang dititipkan pembagiannya oleh para Bupati yang kita tahu mereka rata-rata seorang Muslim juga. Namun nyatanya upah para pekerja itu ternyata dikorupsi oleh mereka, sehingga rakyat menderita.

Sifat pengecut sudah beberapa kali muncul ketika umat Islam sedang terhina. Pada zaman dulu ketika umat Islam diserang oleh Bangsa Mongol saja banyak para ulama yang malah tidak ikut atau menganjurkan untuk memerangi bangsa Mongol. Mereka malah memilih berdoa seakan-akan doa mereka lebih bisa menghancurkan musuh-musuh daripada mengangkat pedang dan panah. Padahal, Rasul mewajibkan Jihad ketika ada kemampuan dan untuk melawan musuh-musuh Islam. Dan sampai sekarang masih saja banyak orang Islam mengutamakan “Tidak apa-apa hina di dunia, asal di akhirat mulia”, seolah-olah ritual ibadah mereka itu sudah cukup mempresentasikan keislaman mereka. Dan sebenarnya ungkapan itu menunjukkan rasa putus asa mereka akan pertolongan dan rahmat Allah Swt bagi mereka di dunia. Allah berfirman dalam surat az-Zumar ayat 53 “Janganlah berputus asa dari Rahmat Allah”. Dan juga surat Muhammad ayat 7 “Jika kamu menolong Allah niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. Rasa keterbelakangan muncul ketika umat Islam merasa mereka tidak bisa menyaingi kemajuan bangsa-bangsa selain mereka. Terlebih lagi wilayah-wilayah kaum Muslimin yang sedang mengalami penjajahn oleh negara-negara besar. Dan pada era penjajahan hingga era modern Inferiority Complex (perasaan minder suatu bangsa akibat dari kalahnya mereka dalam persaingan dengan bangsa-bangsa lain yang lebih maju) ada di setiap isi kepala orang-orang Muslim.

Untuk saat ini umat sangat perlu melihat kembali sejarah kemajuan peradaban Islam sebagai motivasi mereka untuk meraih kembali kejayaan umat Islam. Umat pada abad modern banyak yang lupa dan tidak melihat kembali sejarah peradaban Islam. Refleksi sangat perlu untuk merenungi bagaimana Islam pada lampau bisa sampai pada puncak kejayaannya. Jangan sampai refleksi ini tidak membuahkan hasil dan dikekang dengan ungkapan “Ajaran Islam sudah sempurna, tidak perlu ada sesuatu yang baru muncul darinya”.

Itulah faktor-faktor yang disebutkan oleh al-Amir Syakib Arslan. Faktor-faktor ini yang sudah ada dari zaman pengarang dan masih ada hingga sekarang. Meski buku beliau sudah hampir berumur satu abad lamanya, namun perubahan kaum Muslim menuju kemajuan masih terasa jauh apabila kita rasakan. Kemajuan umat Islam tidak hanya diinginkan oleh pengarang, namun juga seluruh umat. Untuk mewujudkannya adalah dengan mengembalikan kembali kesadaran umat Islam seluruhnya dan mengatasi faktor-faktor yang menjadi penghalang kita.


Referensi

  • Arsalan, Syakib. Limaza Ta’akhara al-Muslimun wa Limaza Taqaddama Ghairuhum. Beirut: Maktabah al-Hayah.
  • “Limaza Ta’akhara al-Muslimun”. ar.m.wikipedia.org. 25 Mei 2023.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fikih Lingkungan Hidup (Fiqh al-Bī‘ah) Ali Yafie sebagai Pandangan Hidup Berkelanjutan

Teori Double Movement Fazlur Rahman: Mencari Hubungan antara Teks dan Konteks

Qira’ah Mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir: Reinterpretasi Teks-teks Relasi Perempuan dan Laki-laki