(1) Hassan Hanafi: Role Model Kejujuran atas Kemunduran Islam

 Oleh Sulaiman Yusuf



Biografi Hasan Hanafi

Pada era tahun 30 sampai 40-an, Mesir mengalami gejolak politik yang sulit untuk dihindari. Meskipun di tahun 1922 Inggris menjanjikan kemerdekaan kepada Mesir, namun itu semua hanya menjadi janji palsu. Mesir tetap menjadi lahan subur kolonialisasi Inggris. Akibat dari kolonialisasi itu ekonomi rakyat menjadi susah, kemiskinan, dan kelaparan. Pada saat itu juga di Mesir terjadi pertentangan ideologi yang dipelopori oleh Gerakan Islam, Komunis dan Liberal. Ketiga Ideologi tersebut saling bermusuhan untuk merebut tampuk kekuasaan di Mesir.

      Di saat situasi sulit tersebut lahirlah seorang bayi yang kelak akan menjadi pemikir, revolusioner, pembebas. Tokoh tersebut bernama Hassan Hanafi. Hanafi lahir pada 13 Februari 1935 di Kairo, Mesir dekat benteng Salahuddin yang berdekatan dengan wilayah al-Azhar. Karir pendidikannya diawali di sekolah dasar dan tamat pada tahun 1948. Setelah menamatkan pendidikannya di tingkat Madrasah Tsanawiyah, Hanafi melanjutkan ke tingkat berikutnya yaitu di Universitas Kairo hingga mendapatkan gelar Strata-1.

Semasa kuliah di Kairo, tepatnya pada tahun 1952 Hanafi mulai tertarik dengan ideologi dan pergerakan kelompok Ikhwanul Muslimin, sebuah organisasi yang mengakomodir para intelektual muda guna bergerak pada bidang sosial dan politik. Tujuan utama dari Ikhwanul Muslimin adalah menyatukan umat Islam yang sudah terbelah menjadi satu kesatuan yang digerakkan oleh satu komando dengan harapan untuk melawan penindasan dan marjinalisasi oleh para penjajah.

Setelah menyelesaikan studi di kairo, ia melanjutkan studinya ke Universitas Sorbon Prancis untuk tingkat S2 dan S3. Semasa belajar di Prancis ia mulai belajar berpikir metodologis, terkonsep, dan tersistem. Di Prancis ia juga belajar kepada Jean Gitton (seorang reformis Katolik) deretan ilmu yang ia pelajari seperti sejarah filsafat, metodologi berfikir, dan formulasi pembaruan. Ia juga sempat belajar kepada Edmund Husserl perihal ilmu analisis kesadaran. Serta masih banyak lagi fan ilmu yang ia pelajari di Prancis.

Pada tahun 1966 ia meyelesaikan studinya di Prancis dalam jenjang magister dan doctoral.  Setelah tamat ia memulai karir akademiknya dengan menjadi Lektor Fakultas Filsafat pada tahun 1967 dan menjadi Lektor Kepala pada tahun 1973. Selain itu ia juga menjadi dosen tamu di beberapa Universitas di luar Mesir.


Perkembangan Pemikiran Hassan Hanafi

        Hassan Hanafi adalah tokoh pembaru, pemikir, dan reformis yang dikenal di dunia pemikiran Islam era kontemporer. Hanafi tergugah untuk berpikir kritis dan bersemangat untuk membangkitkan peradaban umat islam (Arab) tak lekang dari pemandangan yang menyayat hati, khususnya di Mesir. Setidaknya ada dua faktor yang menggugah Hanafi untuk melakukan pembaharuan. Pertama, faktor eksternal Islam, yaitu zionisme, imperialisme, dan kapitalisme. Kedua, faktor dari internal Islam, yaitu ketertindasan, kemiskinan, dan keterbelakangan. Kedua faktor tersebut terjadi karena di tubuh Islam mengalami stagnansi berpikir dan egoisme yang tinggi. Akibatnya Islam di legitimasi sebagai agama yang keterbelakangan, ketertinggalan, dan menolak nilai-nilai sosial.

      Untuk memahami corak perkembangan pemikiran Hassan Hanafi kita dapat membaginya menjadi tiga periode. Pada periode pertama tahun 60-an fase kritis untuk merekonstruksi pemikiran Islam. Di tahun tersebut pola pemikiran dan pemahaman Hassan Hanafi banyak dipengaruhi oleh ideologi yang yang eksis di Mesir. Paham tersebut di antaranya: nasionalistik, sosialistik, dan populistik yang terkumpul di Pan-Arabik. Ketika di Prancis secara perlahan ia mulai merekonstruksi pehamahan tersebut dengan menekuni berbagai disiplin ilmu yang berguna dalam merekonstruksi pemikiran Islam yang ia nilai sedang berada pada fase krisis. Ia juga melakukan riset guna menganalisis permasalahan ini, yang menghasilkan sebuah karya disertasi Essai sur la Methode d’Exegese tentang metode penafsiran setebal 900 halaman. Hal itu ia lakukan dengan mengomparasikan ilmu usul fikih yang menjadi landasan dalam pengambilan hukum Islam dengan sebuah filsafat modern fenomenologi yang dirintis oleh Edmund Husserl guna menjadi pemahaman baru keagamaan dengan mengontekstualisasikan dengan realitas kontemporer.

        Periode kedua 1970, pada fase ini Hanafi banyak berpikir dan berbicara terhadap permasalahan kontemporer. Hal ini ia lakukan guna mempelajari penyebab kekalahan Mesir terhadap Israel. Dengan menggabungkan semangat keilmuan dan kerakyatan yang membuatnya mengeluarkan argumen bahwa seorang ilmuwan tidak hanya duduk manis menikmati fasilitas negara, namun harus terjun langsung untuk memberikan pencerahan dan jalan keluar kepada rakyat yang terdampak kemiskinan dan keterbelakangan.

     Periode ketiga 1980, kondisi politik pada tahun tersebut cukup stabil. Sehingga membuat Hanafi menjadi lebih produktif dengan melanjutkan penulisan bukunya yang berjudul at-Turats wa at-Tajdid (tradisi dan pembaharuan). Hal ini ia lakukan guna mengoreksi sikap umat Islam terhadap agama, yaitu kekurangan dan kemalasan kita dalam belajar dan memahami teks-teks klasik hingganya membuat Islam hanya berputar dalam praktek ritus saja. Selanjutnya pada tahun 1981 ia menerbitkan jurnal yang berjudul “al-Yasar al-Islami” yang berisikan semangat kebangkitan Islam.

Analisis Kemunduran Islam dalam Jurnal al-Yasar al-Islami

       Jurnal al-Yasar al-Islami yang ditulis oleh Hassan Hanafi pada tahun 1981 lahir dari realitas yang dialami oleh Hassan Hanafi kala itu. Jurnal ini merukapan kelanjutan dari jurnal yang ia tulis berjudul al-Urwah al-Wustqo dan jurnal al-Manar. Nampaknya terdapat keterkaitan kepada konsep yang digagas oleh Jamaluddin al-Afgani, yaitu seruan untuk melawan kolonialisme dan keterbelakangan, kebebasan, dan gerakan untuk menyatukan umat Islam, khususnya Islam Arab.

      Mengenai istilah yang kiri yang dipakai oleh Hanafi bukan seperti gerakan kiri ala Barat. Namun, kiri yang dimaksud oleh Hanafi adalah kiri yang kritis, kiri inklusif, kiri perlawanan. Hal ini ia lakukan guna melawan penguasa yang menindas yang dikuasai, sekat kaya dan miskin. Dengan kata lain kiri Islam adalah kiri yang memihak kepada yang tertindas, miskin, dan ketertinggalan. Pembacaan atas penjelasan ini mirip seperti komentar Abdurrahman Wahid dalam buku Shimogaki, ia menjelaskan bahwa pemikiran Hanafi jelas-jelas menggunakan analisis kelas yang mendomiasi sosialisme sebagai ideologi.

    Lahirnya kiri Islam Hassan Hanafi karena mendapatkan motivasi dari Gerakan Revolusi Iran yang dilakukan oleh Ali Syariati sebagai konsep pemikiran dan pergerakan politik yang dilakukan oleh Khomaeni pada tahun 1979. Namun bukan hanya itu saja alasannya, penulis mecoba menganalisis kemunduran Islam dalam parameter penindasan dan keterbelakangan yang diakibatkan oleh gagalnya gerakan modernisasi Islam dan lingkungan Islam Arab yang tidak mendukung. Parameter kemunduran dapat dipahami dalam beberapa konteks di bawah ini:

  1. Terkooptasinya agama yang disebabkan oleh kekuasaan yang membuat paham keagamaan menjadi stagnansi dalam pola teosentris dan tidak menuju antroposentris. Sehingga membuat ajaran agama hanya sebatas ritus belaka. Kecenderungan dari sikap ini menajadikan kedok orang-orang feodalisme dan kapitalisme kesukuan bersembunyi dalam tubuh agama.
  2. Liberalisme yang dibuat oleh Barat telah melahirkan kapitalisme. Kapitalisme yang didukung oleh orang-orang “kelas atas” menyebabkan eksploitasi hasil bumi yang diperuntukkan oleh pemegang kendali, membuat rakyat menjadi miskin, ketertinggalan, bodoh. dan masalah sosial lainnya. Terutama produk imperealisme yang telah menyengsarakan rakyat.
  3. Marxisme sebagai basis gerakan sosial yang hendak menghilangkan kolonialisme dan hierarki sosial nyatanya gagal membuat rakyat terbebas dari cengkeraman imperealisme dan kolonialisme serta tidak membuat khazanah umat berkembang.
  4. Adanya Gerakan Revolusi Nasional telah melahirkan gerakan fundamentalisme berbasis agama. Dengan tindakan radikal yang dipromosikan oleh ulama fundamentalisme menimbulkan keretakan umat Islam. Permasalahan ini terjadi karena setelah adanya revolusi di dunia Arab, khususnya di Mesir yang condong berpaham sekuler, mereka mengeluarkan kebijakan pembubaran bahkan pelarangan organisasi berbasis Islam karena dianggap dapat mempengaruhi politik kekuasaan. Akhirnya terbentuklah gerakan kecil bersenjata dengan paham eksklusif yang menimbulkan konflik berdarah antarumat Islam.

Melihat realita dunia Islam yang dipenuhi dengan permasalahan yang kompleks, apabila tidak diatasi dengan metode dan sistem yang jelas maka akan berakibat fatal terhadap kemajuan Islam itu sendiri. Menelusuri lebih jauh kecenderungan berpikir eksklusif atas paham keagamaan dan menolak ilmu-ilmu di luar Islam akan mengakibatkan stagnansi berpikir umat. Oleh sebab itu dalam jurnal al-Yasar al-Islami Hassan Hanafi menawarkan konsep tajdid atau pembaruan. Yakni dengan melakukan revitalisasi khazanah Islam klasik, sikap menentang peradaban Barat, dan analisis realitas Islam. Akhirnya pembaruan atas ketertinggalan Islam Hassan Hanafi dan perjuangannya membela kaum lemah, telah mendapatkan konstelasi pemikiran-pemikiran alternatif dalam aspek pemikiran Islam.

Referensi

  • Suharti. 2015. Menjinakkan Barat dengan Oksidentalisme: Gagasan Kiri Islam Hassan Hanafi. Jurnal Ulumuna, 9 (2): 355-368.
  • Yusdani. 2002. Gerakan Pemikiran Kiri Islam: Studi Atas Pemikiran Hassan Hanafi. Jurnal Al-Mawardi, 7: 79-90.
  • Munir, Ahmad. 2000. Hassan Hanafi: Kiri Islam dan Proyek Al-Turas wa Al-Tajdid. Mimbar: Jurnal Sosial dan Pembangunan, 16 (3): 251-259.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fikih Lingkungan Hidup (Fiqh al-Bī‘ah) Ali Yafie sebagai Pandangan Hidup Berkelanjutan

Teori Double Movement Fazlur Rahman: Mencari Hubungan antara Teks dan Konteks

Qira’ah Mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir: Reinterpretasi Teks-teks Relasi Perempuan dan Laki-laki