(2) Abid al-Jabiri: Role Model Kejujuran atas Kemunduran Islam

 Oleh Muhammad Alfathan


Dalam bidang kajian keilmuan Islam, Maroko menjadi salah satu negara yang banyak berkontribusi mengembangkan wacana keilmuan Islam. Tidak hanya berkutat pada cabang usuliyyah atau furu’iyyah saja, Maroko ikut menyumbang berbagai pemikiran mengenai filsafat, diskursus feminisme, kajian sosial-budaya, dan pemikiran lainnya sesuai dengan tren yang berkembang di era modern ini. Semangat keilmuan tersebut menunjukkan Maroko merupakan negara yang banyak mencetak pemikir-pemikir Muslim. Sebut saja Muhammad Abid al-Jabiri, sosok pemikir kritis yang akan dibahas dalam tulisan ini. Selain al-Jabiri, ada Abdullah al-Urwi, Abdurrahman Thaha, Fatimas Mernisi, dan masih banyak tokoh pemikir lainnya.

         Abid al-Jabiri lahir di Maroko, tepatnya kota Figuig pada tanggal 27 Desember 1935. Selama hidupnya, al-Jabiri mendalami dan banyak mengkritik tentang epistemologi Islam yang lama eksis di dunia Arab-Islam. Semangat al-Jabiri tersebut tidak lepas dari lingkungan Maroko sebagai daerah Islam bagian Maghrib yang banyak melahirkan tokoh besar di era klasik, seperti Ibn Rusyd, Ibn Khaldun, Ibn Hazm, yang menjadi rujukan corak pemikiran al-Jabiri. Al-Jabiri meninggal pada hari Senin, 3 Mei 2010 di Casablanca.

            Bagaimana pun juga, pemikiran al-Jabiri harus dilihat dari berbagai sisi yang mempengaruhinya. Keadaan sosial-politik dan kultur keilmuan di Maroko tentu menjadi aspek yang menjadi penilaian dalam menguraikan pemikirannya. Lingkungan keluarga juga menjadi modal pertama al-Jabiri dalam menggeluti dunia intelektualnya. Al-Jabiri hidup di lingkungan keluarga yang aktif di panggung politik. Memang pada waktu itu banyak para aktivis dan politisi yang bersatu memperjuangkan kemerdekaan Maroko di bawah jajahan Prancis.

Fenomena itu memberi petunjuk bahwa di Maroko, tentu banyak warisan yang ditinggalkan Prancis selama menguasai daerah-daerah di Maroko. Artinya, akulturasi budaya pun merupakan keniscayaan yang tak dapat dihindarkan. Jika ditelisik lebih teliti, baik secara langsung atau tidak, pemikiran al-Jabiri banyak dipengaruhi oleh filosof-filosof Prancis. Misal, dari Michel Foucault, al-Jabiri mengambil metode kritik nalar yang menjadi topik utama dalam pemikirannya. Dari Claude Levi-Strauss, al-Jabiri mendalami tentang definisi akal, dan dari Althusser ia mengadopsi konsep reading text, yang keduanya akan digabungkan dalam menyusun tesis mengenai akal-Arab dan cara memahami turats sebagai warisan budayanya.

Sebelum masuk ke pemikiran al-Jabiri, perlu diingat bahwa kritik yang dilancarkan al-Jabiri adalah terhadap al-‘Aql ­­Arab-Islam, jadi bukan terhadap Islam secara global. Karena yang dimaksud al-Jabiri adalah tradisi keilmuan Islam di tanah Arab di era klasik (turats) yang telah melahirkan konsep-konsep, metode, dan karya yang kemudian mengakar dan selalu dijadikan rujukan dalam kajian Islam. Erat kaitannya turats itu dengan cara kita memahami dan merefleksikannya dalam menjawab persoalan-persoalan kebaruan. Demikian, al-Jabiri akan lebih dalam melihat keadaan itu dengan mengkritisi metode atau epistemologi yang dibangun oleh pemikir terdahulu dalam menyusun turats-turats tersebut.

Problematika Turats dan Wacana Modernitas

Secara sederhana, turats merupakan warisan Islam era klasik yang dirawat sebagai tradisi ketersambungan dalam pemikiran Islam. Turats  merupakan warisan keilmuan Islam yang lahir dalam tradisi Arab-Islam sejak era kodifikasi, di mana para ulama telah mengumpulkan dan menyusun berbagai kaidah, metode, dan konsep mengenai bangunan keilmuan Islam. Turats dianggap sebagai tafsir agama, ketika ada persoalan yang harus dijawab berdasarkan agama, maka turats selalu dijadikan pijakan utama. Tradisi tersebut berlangsung sampai zaman sekarang, karena memang orientasi turats (secara bahasa) adalah ketersambungan ke masa depan.

Pasca kekalahan Arab-Islam di tragedi 1967 melawan Israel, banyak permasalahan baru masuk ke tubuh Islam yang cukup kompleks. Pada waktu itu, dunia Islam dihadapkan dengan modernitas yang harus dijawab sebagai upaya penyegaran wajah Islam sesuai dengan tuntutan zaman. Problematika yang muncul dari arus modernitas tersebut ialah bagaimana Islam memahami kembali warisan tradisinya yang selama ini dijadikan sebagai pijakan utama. Tentu keadaan itu membangunkan kesadaran bersama dalam membenahi wajah Islam, sehingga timbul wacana self criticism (kritik internal) terhadap warisan-warisan Islam yang telah lama mapan. Yakni, para pemikir Muslim dalam menggeluti kembali al-Quran, sunah Nabi, dan turats sebagai landasan bagi kebangkitan Islam.

            Banyak alternatif yang ditawarkan oleh berbagai pemikir Muslim dalam menghadapi modernitas tersebut, sebut saja gerakan kembali pada al-Quran dan sunah, gerakan tradisionalis, Islam-liberalis, dan Islam moderat. Berbeda dengan yang lain, al-Jabiri melihat kekosongan dalam membangun kerangka pemikiran sebagai dasar kebangkitan Islam. Ia pergi lebih dalam lagi, menyoal kembali bangunan epistemologi sebagai tahapan paling dasar dalam memahami Islam. Al-Jabiri sangat menghargai warisan-warisan keilmuan Islam, dan di saat yang sama ia tidak menutup terdiri atas modernitas.

            Abid al-Jabiri melihat adanya kecongkakan para pemikir Muslim dalam menghadapi modernitas tersebut. Gerakan kembali pada al-Quran dan sunnah terlalu tidak memperhatikan warisan emas Islam klasik yang telah membawa Islam ke kancah dunia. Kaum tradisionalis terlalu condong pada turats tanpa dipahami secara kritis, yakni tanpa adanya kritik dan kontekstualisasi. Keduanya dianggap telah mengabaikan realitas yang sedang dihadapi. Ada juga yang terlalu memandang Barat sebagai kiblat utama dalam membangunkan Islam dari keterbelakangan. Kelompok tersebut tidak melihat warisan Islam dan terlalu berlebihan dalam memandang Barat sebagai standar utama.

Kritik Nalar Arab-Islam

        Abid al-Jabiri menilai turats sebagai akal kesadaran, budaya, dan produk identitas paling autentik dari peradaban Arab-Islam. Demikian, keterbelakangan bangsa Arab-Islam disebabkan cara memahami turats yang cenderung sirkuler, yakni hanya berputar pada aspek teks, persoalan, dan kembali lagi ke teks. Al-Jabiri mengamini sebuah cara memahami turats dengan gaya bergerak ke arah depan dengan cara menempatkan metode atau epistemologi yang cocok. Wacana kritik nalar Arab-Islam adalah sebuah upaya untuk merekonstruksi tradisi pembacaan dan penulisan turats dari berbagi sisinya.

            Menurut pengamatan al-Jabiri, setidaknya ada tiga model pemikiran (episteme) yang berbeda satu sama lainnya, bahkan kerap kali tidak bisa diselaraskan. Pertama, nalar bayani yang secara bahasa berarti keterpilihan, ketersambungan, pembeda, atau penjelas. Nalar bayani dianggap sebagai metode untuk menghasilkan wacana beserta aturan-aturannya, dari suatu kondisi samar menjadi kondisi yang jelas. Pada perkembangannya, metode bayani memaksakan teks sebagai ukuran dalam menentukan kebenaran. Konsekuensinya ialah pengetahuan mengenai sesuatu harus didasarkan pada konsepsi atau teks agama, bukan pada kondisi atau realitas sesuatu itu sendiri. Dalam hal ini, al-Jabiri menilai bahwa nalar bayani tidak bisa dijadikan jalan dalam menghadapi modernitas.

            Kedua, nalar irfani yang maknanya sama dengan makrifat, yakni pengetahuan. Namun, pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan sesuatu yang diperoleh dari pengalaman intuitif (rasa). Metode ini biasa dijadikan jalan para sufistik yang cenderung meninggalkan realitas nyata. Al-Jabiri tidak memberi tempat untuk metode irfani karena kecenderungan alam metafisik yang akan menjauhkan Islam dari realitas modern. Ketiga, nalar burhani yang biasa dikenal sebagai metode demonstratif. Nalar burhani muncul ke dunia Arab-Islam setelah adanya gerakan hellenis, yankni masuknya budaya Yunani ke dunia Arab. Tentu metode ini akan terlihat dikuasi oleh kaidah-kaidah logika yang kemudian ditransformasikan ke pemikiran Islam menjadi ilmu manthiq. Nalar burhani dianggap al-Jabiri sebagai jalan memproduksi pengetahuan yang bertumbu pada argumen atau alasan-alasan yang logis. Al-Jabiri menjadikan nalar ini sebagai metode dalam menghadapi modernitas, karena dengan metode ini kekuatan rasio dan eksperimen atas realitas diberlakukan. Meskipun nalar burhani yang dimaksud al-Jabiri juga bukan berarti menafikan teks-teks agama yang termuat dalam turats.

Metode Pembacaan Atas Turats

Tiga model nalar Arab-Islam yang hadir silih berganti dan saling mengoreksi, lantas tidak menjadi alternatif bagi kebangkitan Islam pasca 1967. Kegelisahan al-Jabiri adalah adanya masalah penting dalam basis epistemologis. Di saat yang sama, kegelisahan itu melahirkan kesadaran yang mendorong semangat kebangkitan Islam. Proyek pemikiran kontemporer yang dibawa al-Jabiri ialah persoalan mengenai kritik epistemologi dalam menempatkan turats dan melihat modernitas.

Al-Jabiri menilai turats sebagai prestasi sejarah dan modernitas sebagai realitas sejarah, harus ditempatkan pada porsinya masing-masing. Kita tidak boleh terpenjara di prestasi masa lalu, tidak boleh juga larut dalam arus modernitas. Jalan yang ditempuh al-Jabiri nampak lebih damai, jalan yang tidak harus menyingkirkan turats dan tidak juga mengabaikan modernitas sebagai fakta baru. Keduanya merupakan pristiwa yang harus dilihat dan didialogkan secara kritis, sehingga bertemu dengan makna-makna yang bisa ditransformasikan ke zaman baru.

Jalan yang ditempuh al-Jabiri dalam mendamaikan dua keadaan itu adalah dekonstruksi. Al-Jabiri menawarkan pendekatan objektivisme dan rasioalitas. Yakni, objektivisme mengajak kita melihat tradisi secara kontekstual dengan dirinya sendiri. Kemudian, tradisi tersebut diserasikan dengan konteks kekinian, sehingga mampu melahirkan konstruksi pemikiran baru. Dalam pandangan al-Jabiri, metode tersebut akan berhasil ketika tradisi-turats dibongkar dengan kritik nalar sebagai proses memutuskan tali epistemologi. Pemutusan ini perlu diperhatikan agar subjek pemikir tidak terbelenggu, melainkan menguasi tradisi yang telah diwariskan.

            Tidak berhenti di sana, sistem kontinuitas pun harus harus diterapkan. Dalam artian, adanya upaya untuk menghubungkan antara teks dengan subjek pembaca. Proses ini dinilai mampu memahami dan melahirkan makna yang tersembunyi di balik teks. Jadi, dari objektivisme, rasionalitas, dan pemutusan epistemologi merupakan jalan ketersambungan (kontinuitas) dari pembacaan turats yang akan melahirkan pola-pola baru sesuai dengan konteks kekinian. Karena hanya dengan menghubungkan semua elemen itu yang dapat menentukan arah dan visi bagi jalan kebangkitan Islam.

Referensi

  • Abed al-Jabiri, Mohammed. (2011). The Formation of Arab Reason: Text, Tradition and the Construction of Modernity in the Arab World. Lebanon: Centre for Arab Unity Studies.
  • Eyadat, Zaid, dkk. Islam, State, and Modernity: Mohammed Abed al-Jabiri and the Future of the Arab World. New York: Palgrave Macmillan.

  • Mukti, Abdul. (2018). Kritik Nalar Arab: Muhammad Abid al-Jabiri. Yogyakarta: LkiS.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fikih Lingkungan Hidup (Fiqh al-Bī‘ah) Ali Yafie sebagai Pandangan Hidup Berkelanjutan

Teori Double Movement Fazlur Rahman: Mencari Hubungan antara Teks dan Konteks

Qira’ah Mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir: Reinterpretasi Teks-teks Relasi Perempuan dan Laki-laki