(3) Muhammad Qutb: Role Model Kejujuran atas Kemunduran Islam

 Oleh Ahmad Fauzi


Biografi Muhammad Qutb

Muhammad Qutb merupakan seorang tokoh pemikir Islam abad 20 yang cukup fenomenal. Tokoh yang bernama lengkap Muhammad Qutb Ibrahim Hussein Al-Syazili merupakan seorang adik dari Sayyid Qutb, seorang tokoh pergerakan Mesir yang sangat kontroversial. Muhammad lebih muda 13 tahun dibandingkan dengan kakaknya tersebut.

Muhammad Qutb lahir di Musha sebuah daerah di Mesir. Muhammad merupakan anak kedua dari lima bersaudara, dan ia terlahir dari keluarga yang sangat religius. Namun hal-hal berbau “pergerakan” telah dikenal dekat oleh Qutb bersaudara sedari kecil. Karena ayahnya merupakan seorang petani yang terhormat dan menjadi bagian dari partai nasionalis. Ayahnya yang bernama Al-Haj Qutb sering mengadakan rapat yang membahas tentang pergerakan partai di rumahnya.

Muhammad dan seluruh saudaranya mewarisi perjuangan ayahnya dalam hal-hal pergerakan. Sayyid Qutb sebagai anak pertama meninggal di tiang gantung dikarenakan konflik politik. Nafisah adik pertama dari Muhammad meninggal sebagai syahidah. Aminah, adik kedua Muhammad menjadi seorang penulis sastra dan menikah dengan seorang tokoh pergerakan pula bernama Muhammad Kamaluddin As-Saunuri yang meninggal di penjara. Hamidah adik bungsunya menjadi seorang aktivis dalam bidang pergerakan Islam bersama dengan Muhammad dan Sayyid dan sempat dipenjara beberapa tahun oleh pemerintahan Mesir pada waktu itu.

Muhammad merupakan seorang yang cerdas, ia belajar sastra Inggris di Universitas Kairo dan lulus pada tahun 1940. Setelahnya ia menggeluti dunia “pergerakan” bersama dengan Sayyid. Muhammad mengakui bahwa orang yang paling berpengaruh selama hidupnya adalah Sayyid, ia merupakan kakak, sekaligus guru dan sahabat bagi Muhammad. Sehingga banyak sekali pemikiran Muhammad yang dipengaruhi oleh pemikiran kakaknya tersebut.

Bersama dengan Hamidah, Muhammad sempat ditahan beberapa hari sebelum Sayyid ditangkap (29 Juli 1965), dan mereka dipenjara selama kurang lebih 7 tahun. Namun pada 1966 Sayyid harus meninggal di tiang gantung sebagai seorang aktivis politik dengan alasan perencanaan pembunuhan dan penggulingan kekuasaan.

    Setelah bebasnya, Muhammad bersama dengan para aktivis Ikhwanul Muslimin pergi menuju Saudi Arabia untuk mendapatkan keselamatan akan kehidupan mereka. Di sana Muhammad mengajar sebagai seorang dosen pemikiran Islam di Universitas Ummul Qura Mekkah dan Universitas King Abdulaziz Jeddah. Di sana pula ia dapat mencetak karya-karya dari mendiang kakaknya dan juga membuat karya-karya mengenai pemikirannya. Salah satu karya paling fenomenal dari Muhammad adalah “Jahiliyah abad 20: Mengapa Islam Dibenci?”. Dan Muhammad mengajar sebagai dosen di kedua Universitas tersebut hingga akhir hayatnya pada April 2014.

Jahiliyah (Kebodohan)

Kata Jahiliyah kerap kali kita dengar dalam sejarah Islam yang menggambarkan zaman kebodohan sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw, namun apakah kejahiliyahan itu sudah menghilang sama sekali setelah diutusnya Rasul? Bukankah pada saat ini manusia telah mengenal pengetahuan dengan sangat luas sehingga kejahiliyahan telah menghilang seutuhnya? Perlu ditekankan bahwa kejahiliyahan bukan persoalan pengetahuan, sosio-politik, ekonomi, kemajuan material dan lain sebagainya. Melainkan kejahiliyahan merupakan penentangan manusia atas ajaran Haq yang telah digariskan kepadanya. Penentangan terhadap ajaran-ajaran agama Allah merupakan sebuah kejahiliyahan.

Kejahiliyahan atau penolakan terhadap ajaran Haq merupakan citra manusia dari zaman ke zaman. Pada dasarnya fitrah manusia apabila bukan hidayah adalah jahiliyah, jika tidak pada jalan yang benar maka berada dalam jalur kesesatan (tidak ada alternatif ketiga). Namun perlu diingat bahwa ini merupakan citra manusia dari zaman ke zaman, dan juga hidayah bukan menolak pengetahuan dan perkembangan, karena pengetahuan, organisasi, kekuatan, dan politik itu bersifat netral.

Kejahiliyahan modern ini merupakan perkembangan dari kejahiliyahan-kejahiliyahan di masa yang sudah lampau. Apabila kita menarik garis historis, maka ditemukan bahwa awal mula dari kejahiliyahan modern merupakan kejahiliyahan Yunani kuno. Perkembangan pengetahuan yang terjadi pada masa itu menjadikan orang-orang Yunani pada saat itu fanatik pada ilmu-ilmu, budaya, dan juga pemikiran-pemikirannya. Sehingga menimbulkan bias kebenaran, mereka akan menentang apa-apa yang tidak sesuai dengan ilmu-ilmu, budaya, dan pemikiran tokoh-tokoh pada masa itu. Dari sini pula penolakan wahyu terjadi.

Jika kita menilik mitologi Yunani, kita banyak sekali menemukan pertentangan antara manusia dengan ”Dewa-dewa” yang mereka sembah. Penggambaran dewa pada mitologi Yunani sangatlah antropomorfis (menyerupai manusia) dengan segala perbuatan-perbuatan buruknya. Sehingga menimbulkan kebencian pada umat manusia terhadap dewa, yang menjadikan manusia menolak wahyu-wahyu Allah yang turun pada masa-masa mendatang.

Selanjutnya kejahiliyahan dilanjutkan pada peradaban Romawi kuno, yang meneruskan kejahiliyahan Yunani kuno. Kejahiliyahan pada masa ini adalah memisahkan nilai-nilai spiritual dari kehidupan masyarakatnya, dengan menganggap bahwa sesuatu yang “ada” merupakan sesuatu yang memiliki bentuk fisik (materil) dan selainnya tidak. Kejahiliyahan ini menyebar luas di setiap lapisan masyarakat, yang pada akhirnya penolakan terhadap wahyu kembali berulang.

Berlanjut pada abad pertengahan, ketika “agama” ikut serta dalam pembentukan kejahiliyahan modern ini. Pada masa itu penyelewengan agama terasa sangat kental, ilmu-ilmu pengetahuan ditutupi, keputusan Gereja tidak dapat ditentang, dan kapitalisasi ajaran agama. Kita mengenal beberapa tokoh yang dimusuhi oleh gereja seperti; Copernicus, Galileo, dan lainnya. Mereka  dimusuhi dikarenakan menyebarkan kebenaran yang selama ini ditutupi gereja. Di sana pula ajaran agama dikapitalisasi demi keuntungan diri sendiri, “piagam pengampunan” merupakan contoh paling jelas untuk menggambarkan kapitalisasi agama pada abad pertengahan.

Kekecewaan masyarakat terhadap dominasi Gereja ditutup dengan sebuah pergerakan kebangkitan Eropa yang bernama Renaissance. Gerakan ini menerobos setiap penghalang yang diberikan oleh Gereja sehingga dominasi Gereja hilang setelahnya. Namun kekecewaan terhadap ajaran agama masih terlihat, dengan reaksi orang-orang pada masa itu untuk mensekularisasi antara aturan hidup (syariat) dengan moralitas yang ada (akidah). Yang pada dasarnya antara aturan hidup dengan moralitas tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Dan itulah fitrah manusia yang akan membawanya keluar dari kejahiliyahan.

        Jahiliyah modern menganggap bahwa agama hanya mengurusi persoalan terkait ritus-ritus dan hal-hal subjektif transenden saja. Padahal dalam ajaran agama yang diturunkan oleh Allah setiap aspek kehidupan manusia telah diatur dalam ajaran-ajarannya, mulai dari ‘ibadah hingga muamalah. Dan inilah hidayah yang sesungguhnya.

Anti Eropa

Secara konteks historis setiap kebodohan yang lahir pada masa modern ini merupakan hasil dari bangsa eropa yang ingin menghancurkan pribadi-pribadi Muslim. Mereka menerapkan berbagai macam teori yang bertentangan dengan konsep-konsep yang terdapat pada al-Qur’an, salah satu contoh dari hal tersebut merupakan teori evolusi Charles Darwin yang mengatakan bahwa manusia merupakan hasil evolusi biologis dari “kera”. Hal ini pada dasarnya ditentang oleh umat-umat beragama, namun dengan faktor kekecewaan yang terjadi pada abad pertengahan, akhirnya umat-umat tersebut beralih untuk mempercayai teori tersebut.

    Contoh lainnya adalah revolusi industri yang memberikan efek apatisme masyarakat terhadap agamanya karena disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan. Hal ini ditujukan untuk menghancurkan umat bergama dari dalam dengan menyerang kaum pria (diperintahkan untuk bekerja) sehingga mereka lupa (akan agamanya). Namun hal tersebut belumlah berhasil hingga munculnya gerakan “feminisme” yang bertujuan untuk membebaskan wanita sebebas-bebasnya, karena keberlangsungan agama masih berlajut jika orang tua (ibu) masih mengajarkan agama kepada anaknya sedari kecil, dan yang memiliki tugas untuk mengajarkan adalah ibu. Dengan adanya gerakan feminisme yang membebaskan perempuan untuk bekerja sehingga mereka lupa untuk mengajari anak-anaknya akan agama.

Referensi
  • Qutb, Muhammad. (1990). Jahiliyah Abad 20: Mengapa Islam Dibenci? (M. Tohir, Terjemahan). Bandung: Mizan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fikih Lingkungan Hidup (Fiqh al-Bī‘ah) Ali Yafie sebagai Pandangan Hidup Berkelanjutan

Teori Double Movement Fazlur Rahman: Mencari Hubungan antara Teks dan Konteks

Qira’ah Mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir: Reinterpretasi Teks-teks Relasi Perempuan dan Laki-laki