Transformasi Islam dalam Ikhtiar Pembaharuan Ahmad Wahib
Oleh Elang Mahardika
“Kita
tengadahkan muka ke atas, ke alam bebas dan lepas. Di mana
perkawinan pendapat bukan pengkhianatan. Di mana pertentangan pendapat bukan pengacauan. Di mana pembaharuan sikap bukan kejelekan.”
(Asfinawati dalam Pembaharuan tanpa Apologia? Esai-esai tentang Ahmad Wahib)
Sebagai pribadi yang penuh kebebasan dan kejujuran, Ahmad Wahib
seorang pemikir Islam yang berasal dari Madura.
Dalam catatan harian yang ditulisnya, mengeruak muka kegelisahan dan pergulatan
pemikiran seorang pemuda yang mempunyai visi idealisme yang tinggi. Pluralitas
gagasan, transformasi ajaran, dan kesadaran akan harusnya kesinambungan
historis dalam dunia keIslaman. Semua ini mengeliat dan begitu bebasnya dalam gagasan-gagasan
yang lahir dari pemikiran seorang Ahmad Wahib.
Tidak banyak sumber bacaan yang bisa kita ambil dari Ahmad Wahib,
dirinya mati muda ketika magang sebagai wartawan Tempo, dan satu-satunya bacaan
yang bisa diambil adalah catatan harian yang itu juga hasil suntingan Djohan Effendy
dan Ismet Natsir, sahabatnya. Dalam kata pengantar dari catatan hariannya
berjudul Pergolakan Pemikiran Islam H.A. Mukti Ali, menyinggung bahwa
Wahib adalah pribadi yang sering memberikan pandangan yang berbeda ketika
berdiskusi denganya. Mengingat Ahmad Wahib dan Mukti Ali pernah ada dalam satu
lingkar diskusi yang sama. “Limited Group”, begitu Ahmad Wahib sering cantumkan dalam catatannya,
selalu sejalan dengan kajian yang bersesuai dengan tema pembahasan Islam
yang dia gaungkan.
Mengingat pemikiran yang dia bawa hanya terabadikan dalam bentuk
catatan harian. Teori-teori yang dibawakan oleh Ahmad Wahib belum terlalu
mendalam untuk dipatenkan. Namun, dari ide-ide transformasi yang ia bawa seakan
membawa khasanah baru dan bahasan menarik jika berhasil diformulasikan sehingga
menjadi gerakan paten dan mengakar.
Transformasi Ide Islam dan Persoalan Pembaharuan
“Transformasi”
dalam frasa ini mengandung makna yang cukup garang, apalagi bersanding dengan
ide besar yang tercantum pada “Islam”. Tapi perlu dicermati kembali,
Ahmad Wahib dalam konsepsi pembaharuan menekankan untuk bisa membedakan antara Islam dan
wawasan tentang Islam. Islam di sini
dimaksudkan untuk ranah rohaniah yang sifatnya seharusnya individual dalam
setiap muslim. Sedang wawasan tentang Islam adalah
berpadunya roh Islam dalam menjawab kompleksitas zaman
yang senantiasa bergerak. Jadi, transformasi ini mencoba menengadahkan proses
pembaharuan yang seharusnya terus berjalan. Pembaharuan tidak harus menuntut
adanya krisis, malah ketika hanya dituntut dalam kondisi kritis, menurut Ahmad
Wahib, kita malah nantinya hanya berkutat pada sikap apologetis (sikap-sikap
defensif, hingga nantinya menjadi normatif). Pembaharuan
yang digaungkan nantinya tak pelak hanya redam dalam nalar-nalar reaktif dan
tidak lagi kreatif.
Masih pada persoalan pembaharuan, berangkat dari klaim Ahmad Wahib
bahwa dalam mencapai “kebenaran”, tidaklah melalui klaim akan kebenaran
melainkan pencarian akan kebenaran itu sendiri. Di sinilah proses transformasi
berperan, kritik yang ditujukan Ahmad Wahib diarahkan pada peremajaan
interpretasi (pencapaian nilai kebaikan dalam sumber Islam, Qur’an dan hadis). Di sinilah
kita melupakan adanya realitas sosial (bertuju pada
kontekstualisasi sosial historis). Dengan memadukan ketiga otoritas ini; Qur’an-hadis-realitas
sosial, klaim kebenaran yang profan (dalam ruang dan waktu tertentu)
akan senantiasa dinamis dan pencarian akan kebenaranlah yang terus berjalan. Di sinilah
transformasi dari Ahmad Wahib ini Ber”Ada”, dari sekedar “Abdullah” menjadi sebetul-betulnya
Khalifatullah. Meminjam satu paragraf dari Munir
Mulkhan yang bersesuaian dengan pendapat Ahmad Wahib;
Ajaran Islam
tentang Rahmatan lil ‘Alamin hanya akan efektif manakala tafsirnya diletakkan dalam tubuh
sejarah kemanusiaan. Salah satu nilai dasar dari penurunan agama dan
agama-agama adalah fungsinya bagi manusia, bukan sebaliknya, manusia diciptakan
untuk agama... Karena itu, makna Islam sebagai ajaran bagi perdamaian dan
keselamatan umat manusia akan berfungsi manakala ajaran itu dipahami dan
ditafsir bagi kepentingan kemanusiaan dan bukan bagi kepentingan ketuhanan (Abdul Munir
Mulkhan, 2005: 47-48).
Kemandekan wawasan keIslaman terjadi manakala ketika abad 11-15
dunia Islam berhenti untuk mereproduksi pencarian akan kebenaran yang profan. Ijtihad
hanya digunakan oleh kelompok elit dalam mematenkan kebenaran yang absah dan
absolut. Keinginan akan kebebasan individu mati, dimatikan oleh taqlid-taqlid
yang sudah mengakar kuat. Dari sinilah Ahmad Wahib menuturkan akan sikap
insan yang merdeka, gaya individualistis kita harus terjadi perubahan. Dari
awalnya sikap yang otoriter dalam diri sendiri melalui sakralitas taqlid-taqlid
yang mengekang, menuju sikap merdeka yang produktif, analitis dan kreatif.
Pokok dalam memajukan wawasana keIslaman adalah bagaimana kita memaksimalkan
fungionalisasi Islam dalam daya kreativitas kita
sebagai insan yang merdeka, bukan lagi pada penggunaan ajaran Islam
dalam hidup kita. Kesempurnaan Islam bukanlah terletak pada tolak ukur
moral perilaku dan hukum hukum. Kesempurnaan Islam
melingkupi penerangan jiwa yang menjadi titik tolak pengilhaman, yang nantinya
segala persoalan dalam wawasan Islam dilihat dari kontekstualisasi zaman
dan keunikan masing-masing individu.
Sejarah Muhammad sebagai Sumber Ajaran Islam
Ahmad Wahib dalam catatanya banyak sekali menyinggung akan sumber
hukum Islam yang menurutnya kurang menjawab persoalan segala zaman (universal). Bak
pemikiran seorang “liberalis”, dirinya memaparkan bahwasanya wahyu
Tuhan dalam bentuk kalam Ilahi itu tidaklah sesuai dengan
kondisi transendental Tuhan yang harusnya tidak meruang dan waktu.
Wahyu Tuhan senantiasa mengiringi manusia di setiap zaman. Jika kita hanya
menuntut pada ruang dan waktu tertentu dan itu menjadi absolut, tidaklah itu
terjadi yang dinamakan kemajuan. Itulah mengapa Ahmad Wahib menuturkan akan
pencarian fiqh baru yang didasarkan seharusnya pada Sejarah Muhammad “historical
settings”, dan menggunakan daya kreatif manusia menginterpretasikanya untuk
zaman yang senantiasa berubah. Itu pula gagasan bahwa Quran dan hadis
merupakan bagian dari sejarah Muhammad, termasuk juga nanti budaya, hubungan
luar negeri, dan juga iklim kondisi masyarakat. Dan dengan inilah seharusnya
daya cipta wawasan Islam terus berkembang, sehingga kini dalam konteks
modernitas Islam sudah seharusnya cakap dalam menjawab persoalan zaman.
Menguak kesepahaman sejarah, menariknya di sini penempatan sejarah
Muhammad sebagai dasar sumber Islam menjadi upaya revitalisasi ajaran yang
terkesan berani terpikirkan oleh Ahmad Wahib. Banyak sekali kegelisahan yang
dirinya tuliskan, di sini terlihat ketika dirinya menulis ingin sekali bertemu
dengan Nabi Muhammad dan membayangkan bagaimana kiranya Nabi Muhammad berada di
Abad 20 ini “pastinya beliau akan menarik semua sumber Islam yang dikemukakan”,
tulis Ahmad Wahib. Mengembalikan dasar Islam melalui landasan kontekstual,
dengan pendekatan sejarah “seperti teori Dilthey”
akan memberikan penekanan dalam mengurai tafsir Quran dan hadis.
Maka di sinilah apa yang disebut Sejarah Muhammad penting. Sehingga nantinya,
akan ada kesinambungan historis yang berkembang, transformasi Islam yang terus
berjalan akan memenuhi kekosongan jawaban dari pertanyaan zaman yang kompleks.
Menghindari Sikap-sikap Apologia
Pembaharuan tidaklah tercipta dari sikap apologia. Apologia sendiri
adalah mental di mana sikap defensif yang dikeluarkan ketika mendapat serangan.
Konsekuensi logis yang terjadi ketika apologia ini dijalankan adalah wawasan
kita akan cenderung eksklusif. Dialog di sini hanya akan
mati dan transformasi tidak berjalan. Kekurangcakapan dalam wawasan Islam
menuntut pada sikap-sikap apologis ini, nantinya tidaklah baik hasil yang
dicapai karena tidak lain paham-paham yang kita gunakan tidak lebih hanya
reaksioner. Dan merasa terkepung dalam segala arah, hingga akhirnya hanya
bersifat normatif.
Daftar Pustaka
Wahib, Ahmad. 1993. Pergolakan Pemikiran Islam (Jakarta: LP3ES).
Pembaharuan Tanpa Apologia? Esai-esai tentang Ahmad Wahib, (Jakarta:Yayasan Wakaf Paramadina, 2010) PUSAD Paramadina | Pembaharuan Tanpa Apologia? Esai-esai tentang Ahmad Wahib (paramadina-pusad.or.id)

Komentar
Posting Komentar