Eco-Philosophy Seyyed Hossein Nasr

 Oleh Sulistiyo


(Sumber: pbs.org)


Latar Belakang

Bulan Maret tahun 2024, telah memasuki bulan Ramadhan bagi umat Islam. Tentunya disambut meriah oleh banyak kalangan, bukan hanya umat Islam, tetapi para pelaku bisnis dan juga masyarakat nonislam lainnya, juga merayakannya. Beragam takjil yang dijajakan oleh para pelaku usaha temporer ataupun sustain. Dengan harga yang terjangkau, banyak lapisan masyarakat yang berburu takjil, bahkan ada yang berburu takjil gratis di masjid ataupun di jalanan (drive thru).

Meskipun begitu banyak membawa berkah bagi perekonomian dan juga keterikatan sosial, momen-momen di bulan Ramadhan ini, menyimpan berbagai masalah yang cukup rumit dan sudah berlangsung selama bertahun-tahun belakangan. Permasalahan tersebut adalah tentang lingkungan, lebih spesifik mengenai sampah yang berserakan dari hasil berburu takjil dan sisa-sisa makanan. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa bulan Ramadhan menjadi bulan yang bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas ekonomi, dengan kata lain, terjadinya jual beli di pasar begitu besar. Kebutuhan untuk mempersiapkan berbuka tentunya harus dibuat semewah mungkin.

Dari akar permasalahan tersebut itulah, maka isu-isu tentang lingkungan muncul. Seperti fenomena banyak sampah yang berserakan di jalanan, bahkan ketersediaan tempat sampah tidak mampu mengatasi sampah tersebut. Diperburuk dengan tidak adanya pemilahan sampah oleh masyarakat, sederhana saja, yaitu pemilahan antara sampah organik dengan sampah anorganik. Setidaknya, sampah yang telah dipilah, nantinya lebih mudah diolah kembali dan secara efisien bisa didaur ulang. Tapi dalam kenyataannya, sampah seringkali berserakan di jalan, menumpuk dalam satu tempat yang sudah di batas maksimal. Yang pada akhirnya, sisa sampah yang tidak tertampung, di saat hujan akan hanyut di sungai yang nantinya berakibat adanya bencana banjir, tergenang dalam danau atau waduk yang fungsinya sebagai penampungan air untuk kehidupan sehari-hari, dan pada akhirnya juga akan berakhir di lautan, yang bisa mengancam biota laut di sana.

Selain itu, sampah akan kelebihan makanan sisa, menjadi masalah yang berkelanjutan. Menurut penelitian dari EPA (Environmental Protection Agency) AS, menjelaskan bahwa penumpukan makanan sisa dalam jumlah besar dan dalam jangka waktu yang lama, akan menghasilkan sebuah gas yang bernama gas metana.[1] Lebih jauh, gas tersebut menjadi penyebab penipisan lapisan ozon di atmosfer dan menciptakan efek rumah kaca yang berakibat buruk bagi penduduk di bumi. Lebih lanjut, pemanasan global akan menjadi semakin parah, sekaligus bisa menggerus lapisan es di Antartika khususnya yang sudah parah dari beberapa tahun ke belakang. Jadi, istilah “sedekah alam” sepertinya tidak sebagus dan sebaik namanya, justru hal tersebut menjadi malapetaka bagi alam itu sendiri.

Dari adanya permasalahan tersebut, dan diakibatkan oleh hal yang sepele seperti membuang sampah dan sisa makanan, bisa berdampak buruk bagi diri kita sendiri ke depannya. Ada sebuah paradoks yang terjadi dalam bulan Ramadhan. Seharusnya bulan Ramadhan ini mengajakan kepada kita untuk mengekang nafsu dan bisa berbuat baik pada seluruh makhluk, justru manusia menjadi musuh yang lebih mengerikan. Apakah setan benar-benar dibelenggu di bulan Ramadhan? Atau apakah kita sendiri setannya? Waktu sahur sampai ngabuburit kita menjadi Malaikat, tetapi ketika menjelang berbuka puasa, kita menjadi Setan.

Di sini fenomena tentang isu lingkungan yang dalam kasus ini diambil khusus di bulan Ramadhan, nantinya akan dikaji lebih dalam dengan menggunakan persepktif Eco-Philosophy dari Seyyed Hossein Nasr. Nantinya akan lebih banyak membicarakan hal-hal yang berbau spiritual, dan itu seharusnya identik dengan bulan Ramadhan. Sebelumnya, akan dibahas pemikiran dari Seyyed Hossein Nasr mengenai Eco-Philosophy.

Artikel ini akan dibagi menjadi tiga bagian pembahasan utama. Semuanya merupakan hasil dari pemikiran Seyyed Hossein Nasr mengenai Eco-Philosophy. Di antaranya adalah pembahasan tentang (1) religious world views of nature, (2) Spiritual world views of nature, (3) dan Application as solve. Kemudian nantinya bisa dijadikan refleksi atas semua tindakan kita selama ini terhadap alam, apakah menguntungkan alam atau tidak?

Religious World Views of Nature

Bagaimana pemikiran dari Nasr tentang Eco-Philosophy ini muncul? Pertama akan dibahas tentang konsep ideanya terlebih dahulu tentang religious world views of nature. Diawali dengan pembahasan sacred science sebagai landasannya. Sacred science secara ringkas artinya ilmu pengetahuan yang suci, artinya suci dari segi sumber yang berasal dari Realitas Tertinggi (Tuhan). Selain dari dirinya sudah suci, cara mendapatkannya adalah dengan cara berkontemplasi spiritual yang mendalam oleh True Intellect.[2] Selain bersumber dari Realitas Tertinggi, juga landasan metafisikanya berdasar pada dunia spiritual. Kemudian sacred science ini terbagi menadi tiga, yaitu traditional scince, occultism, dan berbagai bentuk pengetahuan takhayul.

Sekarang beralih ke salah satu jenis sacred science, yaitu traditional science. Apa itu traditional science? Ilmu pengetahuan ini hampir mirip dengan sacred science, hanya saja, ilmu pengetahuan ini tidaklah secara murni berasal dari landasan metafisiknya sacred science, melainkan ada tambahan dari manusia itu sendiri. Adanya spekulasi yang ada di dalamnya inilah yang membedakannya dengan sacred science, sehingga ada sedikit ketidakyakinan secara penuh atas yang dilihat. Walaupun begitu, ilmu ini bukanlah termasuk occultism dan pengetahuan takhayul yang lainnya, sebab ada relasi yang mendalam dengan dimensi esoteric (spiritual). Ilmu ini sudah ada dan dilestarikan sejak sebelum abad ke 17 M.[3]

Traditional science ini berbeda dengan modern science, contoh ini akan menggambarkan perbedaan antarkeduanya. Dalam segi memandang dunia, traditional science melihat dunia spiritual sebagai yang mempunyai derajat yang tinggi dibandingkan dengan dunia fisik. Begitupun sebaliknya, dalam pandangan modern science, dunia fisik yang tertinggi, sebab dapat dilihat dan diukur.[4] Contoh lainnya adalah dalam memandang manusia, traditional science menganggap manusia tersusun atas tubuh, jiwa, pikiran, dan ruh. Sebaliknya juga, modern science melihat manusia hanya sebatas tubuh yang mengalami evolusi dan berkembang dari zaman ke zaman.[5]  Dari contoh tersebut, bisa dilihat bahwa, traditional science lebih menekankan kesucian dan meminggirkan hal profane, sedangkan modern science secara murni berdasarkan rasio dan juga pengalaman indrawi.

Dengan adanya penekanan yang besar terhadap dunia spiritual, maka sejatinya manusia itu terdiri atas dua substansi, yaitu sebagai tubuh dan juga sebagai pikiran spiritual (jiwa). Sebagai tubuh, artinya manusia dapat melihat dan merasakan dunia secara fisik, dan inilah yang menjadi patokan bagi modern scince dalam melihat dunia. Tetapi ada satu lagi, yaitu pikiran spiritual (jiwa), sifatnya lebih emosional dan romantis, juga jiwa ini melihat dunia saat ini dan juga yang ada di luarnya (beyond). Maka dari itu, terjalin hubungan yang mendalam dengan alam dengan adanya jiwa yang dapat merasakan hawa spiritual dalam alam itu sendiri. Dengan demikian, kebahagiaan yang sejati pastinya dapat diperoleh.

Meskipun begitu, Nasr menegaskan bahwa seringkali manusia modern mengutamakan dan bahkan meninggalkan pikiran spiritual ini, sehingga tercipta kekosongan pikiran dan justru mengakibatkan krisis ekologi yang berkepanjangan. Nasr sempat mengatakan bahwa, krisis ekologi saat ini merupakan akibat dari krisis spiritual manusia modern. Dampaknya ialah, pengabaian terhadap alam demi memuaskan hasrat duniawi manusia berupa ekonomi maupun kekuatan militer, semua itu bukanlah kebahagiaan sejati, justru semu sifatnya.[6]

Lantas apakah masih bisa diselamatkan krisis spiritual manusia modern ini? Jawabannya bisa, yaitu dengan merubah pandangan, yang sebelumnya bersifat materialistik menuju spiritualistik. Belajar untuk memperbaiki tingkat spiritualitas dapat ditemukan dalam berbagai agama di dunia, bahkan aliran kepercayaan.[7] Kitab Suci tiap agama yang menjadi pedoman, adalah sumber utama dan di dalamnya juga berisi ajaran untuk selalu menjaga alam beserta isinya. Memang butuh pemahaman yang mendalam untuk memahami isi dari Kitab Suci dan itu sepadan dengan solusi yang efektif bagi krisis ekologi sekarang. Ajaran utamanya yaitu menjalin kedekatan antara ruh dan alam, kesucian dan profane, Pencipta dan ciptaan-Nya. Ini mengingatkan manusia, bahwa dirinya merupakan bagian dari alam, dan alam ada di dalam dirinya. Maka dari itu, akan menciptakan sebuah pendekatan yang bersifat partisipatoris dan kooperatif. [8]

Apa buktinya jika agama di dunia mengajarkan tentang memandang alam yang baik? Ini bisa dilihat di prinsip fundamental yang ada di berbagai agama di dunia, yaitu Tao, Rta, Syari’ah, Dharma, dan Nomos. Meskipun dari segi nama berbeda-beda, tetapi pada esensinya tetaplah sama, dalam segi prinsip fundamentalnya dan pengungkapan realitasnya. Dalam formasi kosmologi, ada hubungan yang terjalin antara manusia dan alam serta segala isinya secara mendalam, dan itu mengikuti hukum alam yang ada. Dengan pandangan agama dalam melihat alam adalah sebagai satu kesatuan, maka alam tidaklah dianggap asing bagi manusia, justru menjadi ruang hidup yang nyaman bagi manusia itu sendiri dan makhluk lainnya.

Apa yang dihasilkan dari konsep yang telah dijelaskan? Nasr menjelaskan bahwa konsep ide ini bisa mengubah manusia modern cara memandang alam, sekaligus menantang pandangan dunia modern saintifik dalam melihat alam, yang dianggapnya sebagai pandangan yang kurang benar dan cenderung merusak alam. Pandangan dunia modern saintifik berdasarkan pada kepentingan manusia saja, dalam artian pendekatan yang digunakan cenderung antroposentrisme. Segala sesuatu diukur oleh manusia, dan posisi tertinggi bukan lagi Tuhan, ataupun bio dan eko sekalipun. Dengan pendekatan seperti itu, segala aktivitas manusia hanyalah untuk kepentingan manusia yang sebesar-besarnya, dan tidak lagi mengutamakan tanggung jawabnya kepada alam. Karena alasan itu perubahan menuju konsep pandangan dunia agama akan berpengaruh besar dan menjadi sebuah perubahan yang revolusiner untuk mencegah secara permanen krisis ekologi saat ini. Maka dari itu, pandangan dunia agama terhadap alam patut dipelajari.

Spiritual World Views of Nature

Lebih fokus membahas tentang manusia sebagai subjeknya. Pembahasan ini akan dimulai dengan pemahaman agama tentang kosmos atau disebut sebagai sacred cosmology. Kenapa tiba-tiba langsung membahas sacred cosmology? Menurut penulis, ini adalah yang menjadi gambaran umum tentang pandangan dunia ini, lebih spesifik akan menjadi landasan baginya (spiritual world views of nature). Mengapa disebut sacred cosmology? Ini berhubungan dengan tatanan kosmik yang dipahami secara metafisis. Selain itu, keberadaan wahyu turut mendukung dan menjadi karakteristik kesucian dalam kosmologi itu sendiri. Dengan adanya wahyu dan metafisika, maka dunia yang dipahami tidaklah sebatas fisikal saja, tetapi dunia spiritual juga termasuk di dalam sacred cosmology.

Lantas, di mana posisi manusia dalam sacred cosmology ini? Menurut pandangan sacred cosmology, manusia berperan sebagai penghubung level, antara dunia fisik dengan dunia spiritual. Tujuan lebih jauhnya adalah, manusia harus menjunjung tinggi tatanan kosmik dalam rasa dan pemahaman mereka yang mendalam. Tetapi ketika pengetahuan saintifik modern masuk, tergerusnya kesakralan terhadap dunia fisik dan pengabaian dunia spiritual, perlahaan melupakan peran manusia sebagai penghubung level antardunia. Dengan ini, memberikan lisensi manusia untuk terus mengeksploitasi alam untuk memenuhi keinginan manusia. 

Sebelumnya telah dibahas bahwa sumber pengetahuan dari sacred cosmology adalah metafisika, yang kita ketahui bahwa ini berhubungan dengan filsafat. Nasr menganjurkan manusia untuk mempelajari perennial philosophy. Apakah itu? Dan mengapa harus dipelajari? Dan apa hubungannya dengan sacred cosmology? Artinya sendiri ialah filsafat abadi dan mencakup dua landasan, yaitu spiritual dan material.[9] Keduanya harus seimbang, sehingga bisa terhubung dengan harmonis pada keduanya. Tujuannya adalah untuk menumbuhkan kembali spiritualitas manusia dalam memandang alam dan lingkungan. Perennial philosophy berkaitan dengan sacred cosmology dalam hal kesepakatan bahwa dunia spiritual itu ada, dan berlandaskan pada spiritual jiwa, dunia, dan semestanya.

Mengenai peran manusia sebagai penghubung level antara dunia fisik dan dunia spiritual, Nasr menyebut manusia ini sebagai manusia kepausan. Dalam Islam, sebutan ini popular dengan nama Khalifah atau Wakil Tuhan di bumi. Akan tetapi, perlu dicatat bahwa Wakil Tuhan haruslah mempunyai rasa rendah hati, dalam kata lain, juga menjadi Pelayan Tuhan di bumi. Jika manusia tanpa rasa kerendahan hati, maka manusia akan berbuat semena-mena tanpa adanya rasa tanggung jawab.[10] Jika ada manusia kepausan, maka ada lawannya, yaitu promethean human. Sederhananya, manusia ini menolak adanya perintah Tuhan dan lebih mengedepankan egoisnya dalam mengeksploitasi alam.

Jika dilihat, manusia berada di tengah-tengah, antara Tuhan dan alam (bumi) secara hirarkis. Mengapa manusia harus ditempatkan pada tengah-tengah? Apakah hal ini menyiratkan bahwa manusia tidak bebas? Pertanyaan terakhir pernah dilontarkan oleh para aktivis lingkungan sekuler, bahwa dengan adanya manusia di tengah antara Tuhan dan alam, berbahaya bagi etika lingkungan, sebab manusia di“nomorduakan”, dan tentu semua makhluk itu hanya dipertimbangkan sebagai kebermanfaatan mereka. Tetapi Nasr berargumen bahwa, ketika manusia berusaha untuk memanfaatkan alam, seringkali meninggalkan tanggung jawab mereka, yaitu menjaga alam. Mereka hanya mementingkan materi saja, sehingga ruang lingkup alam terabaikan. Maka dari itu, untuk mencegah kerusakan lingkungan lebih dalam, maka manusia ditempatkan di tengah. Artinya, manusia bisa berbuat apapun terhadap alam, akan tetapi perlu diingat bahwa ada tanggung jawab kepada Tuhan atas perilaku manusia terhadap alam.

Dalam ayat al-Qur’an, Tuhan berfirman bahwa semua yang ada di bumi dan yang ada di langit merupakan bukti tanda kebesaran diri-Nya bagi mereka yang berpikir. Hal ini menjelaskan bahwa alam merupakan cerminan dari Tuhan,[11] dan manusia seharusnya tidak bisa memanfaatkan mereka tanpa memperhatikan konsekuensinya. Dari segi derajat dengan makhluk yang lain, hakikatnya manusia sama dengan mereka, meskipun manusia memanfaatkan mereka untuk bertahan hidup, tetapi mereka juga punya hak untuk hidup. Ketika manusia tidak menghargai alam, maka itu sama saja dengan tidak mengharagai Tuhan.

Dengan hidup bersama dengan alam, ini menciptakan sebuah kesatuan yang dinamakan transcendent unity of being. Alam punya hak untuk hidup, dari makhluk nonhuman sampai tempat yang nyaman bagi keduanya untuk ruang hidup berkelanjutan.[12] Wujud kesatuan ini mengarah ke Tuhan, dari hasil hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam. Inilah yang Nasr maksud sebagai pandangan dunia spiritual terhadap alam. Manusia melihat alam bukanlah sebagai seonggok materi dan benda pemuas hidup belaka, dan alam tidak menganggap manusia sebagai alien yang hanya tahu mengeksploitasi mereka saja. Ada keterkaitan antarkeduanya, dengan terkoneksinya aspek spiritual di antara keduanya, sehingga bisa saling memahamkan, dan menyadarkan manusia terkhususnya posisi dan perannya terhadap alam dan juga tanggungjawab kepada Tuhan.

Application as Solve

Adanya pandangan dunia agama dan pandangan dunia spiritual melihat alam, langkah selanjutnya untuk menyelamatkan alam akan semakin mudah. Nasr menyarankan, supaya ada perubahan secara fundamental dalam memahami alam, yang semula masih berorientasi pada saintifik modern, beralih ke spiritual-religius. Ada beberapa pengaplikasian yang dapat diterapkan, di antaranya adalah perubahan secara teknis maupun sistem pada aspek kehidupan manusia.

Berdasarkan segi agrikultur, penggunaan bahan kimia berupa pupuk buatan pada tanaman, bisa berbahaya bagi ekosistem dan juga manusia sendiri, sehingga harus dikurangi dan berlaih pada sistem dan teknik tradisional yang lebih sustainable terhadap lingkungan. Juga bagi manusia, hasil panen lebih menyehatkan dan tidak menimbulkan potensi penyakit yang mengerikan. Dari segi teknik pembangunan, disarankan menggunakan teknik yang diterapkan pada zaman dulu, yang terbukti kokoh dan ramah terhadap lingkungan. Nasr menunjukkan contoh bangunan kuno seperti Piramida dan Tembok Besar Cina, yang dalam prosesnya, tidak menggunakan bahan berupa semen ataupun bahan beton dan besi, walaupun membutuhkan waktu yang lama.

Pengontrolan terhadap kerakusan manusia baik dari segi konsumsi makanan perlu dilakukan, sekaligus sistem ekonomi yang cenderung meraup keuntungan materi tanpa memikirkan alam, juga harus diubah. Seperti gambaran di awal, bahwa kerakusan manusia yang tidak dipikirkan bisa berdampak buruk bagi alam dan manusia itu sendiri. Sederhana saja, seperti pengelolaan sampah dan pengelolaan sisa makanan, adalah gambaran betapa rakusnya manusia, bukan berdasar kebutuhan, tetapi keinginan yang sebenarnya tidak perlu. Setidaknya memilih atau mengolah makanan yang mereka suka dan tentunya tidak disia-siakan. Manusia harus mempertanggungjawabkan segala tindakannya, alam bukanlah tempat sampah, alam adalah ruang hidup bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.

Criticism From Scientists

Meskipun secara panjang dijelaskan dengan baik gagasan Nasr mengenai Eco-Philosophy ini, tentu tidak terlepas dari adanya kritik dari berbagai ilmuwan.[13] Seperti contoh, mengapa Nasr tidak menggunakan pendekatan yang lebih moderat? Artinya menggunakan dua pendekatan atau mengambil jalan tengah, yaitu modern dan tradisional-spiritual. Hal tersebut tentunya lebih efektif, ketika kemajuan teknologi dan pengetahuan, berkesinambungan dengan perkembangan derajat spiritual manusia dalam menggunakan kemajuan yang ada. Perubahan yang revolusioner ini tentunya juga tidak mudah, perlu waktu yang cukup panjang, dan tidak secara instan dirubah secara paksa. Terlebih lagi, beragam manusia telah berkembang, ada yang beragama dan ada yang tidak. Bagaimana mengajarkan spiritualitas pada setiap agama, tetapi orangnya ateis? Itu juga menjadi pertimbangan juga.

Salah satu perubahan terbesar dari pengaplikasiannya adalah sistem ekonomi. Perlu diketahui bahwa berjalannya sistem ekonomi dalam sejarah, cukup kompleks dan butuh waktu yang lama. Juga itupun tidak mudah, sistem ekonomi kapitalisme ini sudah ada sejak lama dan lebih tua dari komunisme, yang mana sistem ekonomi komunis ini walaupun bagus namun tetap gagal menggantikan sistem ekonomi kapitalis. Perihal lainnya yang perlu dikritik adalah penggunaan term manusia kepausan. Mengapa tidak menggunakan ibu bumi yang itu lebih efektif dan bisa berpengaruh kepada manusia untuk menjaga alam daripada term manusia kepausan?

Satu hal lagi, yaitu pendekatan Nasr ini sangat utopis dan tidak realistik. Walaupun filosofis, tetapi tidak semua ilmuwan muda paham, dan ini berkesinambungan dengan manusia yang beragama atau tidak. Juga dalam pengaplikasiannya semuanya, menggambarkan bahwa manusia harus kembali ke masa lalu, dan ini cukup berbahaya untuk disalahpahami, bahwa Nasr mengajak manusia untuk meninggalkan kemajuan teknologi dan hidup seperti zaman dahulu demi keberlanjutan alam.

Masih banyak lagi kritik yang dilontarkan para ilmuwan kepada Nasr. Walaupun begitu, patut diapresiasi bahwa gagasan Nasr ini menjadi pintu lain sebagai opsi untuk mengatasi kriris ekologi saat ini. Dengan catatan bahwa ini tidaklah bersifat umum, menurut penulis, pendekatan ini lebih cocok bagi para pengikut agama dan aliran kepercayaan. Bisa diterapkan oleh seluruh manusia, tetapi perlu adanya pendekatan tambahan, yang mana persolan ini juga kompleks tergantung faktor-faktor lainnya di wilayah masing-masing.


[1] The U.S. Environmental Protection Agency (EPA) published a report in 2021 on the environmental impacts of food waste

[2] Nasr, Need for a Sacred Science, 1-2.

[3] Nasr, Need for a Sacred Science, 95-96.

[4] Nasr, Religion and The Order of Nature, 97.

[5] Nasr, Religion and The Order of Nature, 98.

[6] Nasr, Man and Nature, 14.

[7] Nasr, Religion and The Order of Nature, 9-24.

[8] Nasr, Religion and The Order of Nature, 24.

[9] Nasr, Religion and The Order of Nature

[10] Nasr, Need for a Sacred Science, 134-135.

[11] Nasr, Religion and The Order of Nature, 9

[12] Nasr, Man and Nature, 135-136

[13] Salah satu ilmuwan yang mengkritiknya adalah MD Abu Sayem. Juga salah satu sumber yang penulis gunakan untuk menjelaskan pemikiran Eco-Philosophy Nasr. “The Eco-Philosophy of Seyyed Hossein Nasr: Spiritual Crisis and Environmental Degradation”.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fikih Lingkungan Hidup (Fiqh al-Bī‘ah) Ali Yafie sebagai Pandangan Hidup Berkelanjutan

Teori Double Movement Fazlur Rahman: Mencari Hubungan antara Teks dan Konteks

Qira’ah Mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir: Reinterpretasi Teks-teks Relasi Perempuan dan Laki-laki