Islam Revolusioner, Sosialisme, Politik-Keagamaan, dan Ali Syari’ati
Oleh Fauzi Ahmad
Ali Syari’ati merupakan satu dari beberapa nama yang naik ketika membahas Revolusi Iran, bersanding bersama Khomeini, Murtadha Mutahari, dan beberapa tokoh lainnya. Ali Syari’ati Lahir pada 23 November 1933 di Mazinan dari keluarga yang memiliki silsilah panjang sebagai seorang pemuka agama terkenal. Namun kehidupannya tidak berjalan seperti kakek-kakenya, sejak kecil ia telah melihat progresivitas ayahnya yang keluar dari tradisi keulamaan keluarganya. Ayah Ali, Muhammad Taqi Syari’ati merupakan seorang yang tidak taat pada tradisi Syi’i, bahkan ia mencopot gelar kemullahannya. Pada masa-masa tuanya Taqi Syari’ati membuka sebuah penerbitan dengan nama Nehzat- Khodaparastan-I Sosiyalist (Gerakan Penyembah Tuhan Sosial), dan mendukung Front Nasionalis di bawah kepemimpinan Muhammad Mossadeg. Dan pada masa-masa itu pula Taqi Syari’ati sering melakukan diskusi bersama dengan pemikir modern Iran seperti Ahmad Khasravi. Berkat kedekatannya dengan Khasravilah akhir hayatnya menghampirinya, ia dibunuh oleh kelompok keagamaan fanatik. Dan ayahnya yang kelak menjadi salah satu panutan dan alasan perkembangan pemikiran Ali Syari’ati.
Marxisme dan Sosialisme
Ali
Syari’ati adalah seorang sosialis sejati, dan hal tersebut diterapkannya untuk
menarasikan al-Qur’an, mengkritik dokrin-doktrin ulama yang dianggapnya tidak
baik, dan menjadi landasan utama dalam kehidupannya. Dalam hal ini Syari’ati
terinspirasi dari Karl Marx, seorang pemikir, ekonom, dan sosiolog asal Jerman.
Namun hubungan antara Syari’ati dan Marx tidak begitu baik (love-hate relationship), terdapat
beberapa gagasan Marx yang ditentang oleh Syari’ati. Syari’ati membagi
pemikiran Marx menjadi 3 bagian; muda, dewasa, dan tua. Pada Marx muda seorang
pemikir ateistik yang menyebarkan konsep materialisme dialektis; menolak
keberadaan Tuhan dan akhirat. Kemudian Marx dewasa, seoang sosioog kritis yang
membongkar kapitalisme atau ekploitasi yang dilakukan penguasa kepada
masyarakat. Terakhir ada Marx tua, seorang politisi, ketika ideologi Marxisme
yang dia bangun menjelma menjadi partai politik.
Syari’ati
sangat terpengaruhi oleh Marx dewasa, dengan pembongkaran kegiatan eksploitatif
penguasa kepada masyarakat. Bahkan ia secara khusus mengambil konsep sejarah
pertentangan kelas dalam pandangannya. Syari’ati berpandangan bahwa sejarah
pertentangan kelas manusia dimulai dari peristiwa Qabil dan Habil. Dan
Syari’ati juga bersepakat bahwa sejarah akan terukir berdasarkan pertentangan
kelas. Namun Syari’ati sangatlah membenci Marx tua yang dianggapnya membunuh
ideologi yang telah ia bangun selama ini, dengan membirokratisasi paham
Marxisme dalam sebuah partai. Ketika sebuah gagasan dan paham telah
terbirokratisasi maka kemandekan atau stagnansi akan muncul, karena tumbuhnya
sebuah legitimasi pemahaman. Orang-orang akan tunduk pada pemimpin atau
birokratnya, dan semua akan berjalan berdasarkan satu kepala. Dalam
penerapannya Syari’ati menyebut partai Tudeh (partai komunis Iran) kaku dan
serampangan, dan semakin menjauh dari idologi yang mereka bawa.
Menurut
Hamid Dabashi, seorang professor Iranian
Studies menyebut Syari’ati ingin mengislamisasi Marxisme atau Marxifikasi
Islam. Dalam salah satu pandangannya Syari’ati menyebut bahwa “sebaik-baiknya
manusia adalah yang bertaqwa” hal tersebut dibenarkan oleh Syari’ati, namun ia
menambahkan bahwa sikap revolusioner (menghilangkan penindasan) juga merupakan
sebuah kebenaran dalam Islam, jadi mestinya di samping seseorang bertaqwa ia harus
pula memiliki jiwa revolusioner, menolak dan menghilangkan penindasan yang ada.
Islam Revolusioner
Pandangan
“revolusioner” yang dibawakannya berasal dari pemahamannya akan sejarah Syi’ah
yang tertindas. Ia menganggap Islam (Syi’i) yang benar adalah Islam Hussein bin
Ali bin Abi Thalib, karena penindasan yang diterimanya dan sebetulnya Islam
adalah yang seperti itu. Karena perkawinan antara agama (Islam) dan kekuasaan
akan menimbulkan tirani berkedok Shaleh yang akan membawa kerusakan pula. Ia
mengkritik kekhalifahan Sunni selama berabad-abad membawa Islam semakin jauh
dari maksudnya. Dalam konteks Syi’ah pun Syari’ati sangat mengecam Syi’ah paska
dinasti Safavi yang dianggapnya telah bersetubuh dengan kekuasaan. Padahal pada
sejarahnya Syari’ati menganggap bahwa Syi’ah merupakan aliran yang independen
untuk Islam itu sendiri, namun pasca Safavi, Syi’ah berubah menjadi agama
negara seperti sunni.
Perkembangan
agama Islam pada saat ini dianggap mundur jauh oleh Syari’ati. Bahkan dengan
frontalnya Syari’ati mengatakan bahwa pada saat ini orang-orang muslim memikirkan hal-hal bodoh dengan nalar bodoh
pula. Karakteristik muslim sekarang adalah memikirkan “apakah berjanggut itu
boleh dan merupakan sunah nabi, bagaimana posisi yang seperti nabi ketika berwudhu”
dan sejuta pertanyaan dan pernyataan bodoh lainnya. Menurut Syari’ati untuk apa
memikirkan hal-hal ultra sekunder seperti itu, sedangkan melupakan hakikat dari
Islam dan konsepsi-konsepsi penting dari Islam seperti konsep imamah dan Mahdi yang akan turun. Mengapa hal ini berkembang dalam masyarakat Islam?
Hal ini merupakan akibat dari perkawinan antara agama dan kekuasaan atau
kapitalis, sehingga ulama bisa
menyebarkan sebuah ajaran yang sesuai dengan kepentingan dari kapitalis atau
agar kapitalis tidak terganggu. Selebihnya ulama
akan menikmati bagian yang diberikan oleh kapitalis atas kinerjanya membodohi
masyarakat. Belum lagi dengan sebuah paham yang membawa masyarakat untuk sulit
memahami al-Qur’an atau eksklusifikasi al-Qur’an dari masyarakat secara umum.
Narasi-narasi seperti “Belum sampai pada maqamnya
untuk mempelajari al-Qur’an” membawa ulama
lebi jauh lagi memonopoli agama dari masyarakat muslim secara umum.
Raushanfikr
Raushanfikr
merupakan suatu konsep yang dikembangkan oleh Ali Syari’ati sebagai gambaran
manusia yang mengimplementasikan Islam revolusioner
yang Syari’ati maksud. Raushanfikr sendiri memiliki arti pemikir yang
tercerahkan. Hal tersebut bisa dicapai ketika seorang manusia dapat
menggabungkan antara kecerdasan pengetahuan (ilmu) dengan kebenaran moral
(iman). Raushanfikr bukanlah sebuah konsep manusia paripurna seperti yang
digunakan oleh Nietzsche, Übermensch. Raushanfikr merupakan sebuah kerangka
kerja sosial yang dibuat untuk menciptakan Islam
revolusioner dalam benaknya.
Referensi
Azra, A. (1993).
Ali Sayari'ati: Biografi Lebih Jauh. Ensiklopedi Islam.
Syari'ati, A. (1993). Ideologi
Kaum Intelektual. Bandung: Penerbit Mizan.
Syari'ati, A. (2015). Syahdah
Bangkit & Beraksi. Yogyakarta: JAKFI.
Syari'ati, A. (2020). Ummah
dan Imamah. Yogyakarta: RAUSYANFIKR INSTITUTE.

Komentar
Posting Komentar