Moderasi Beragama Integratif: Perspektif Fethullah Gulen
Oleh Afda Muhammad
(Artikel lengkapnya dapat diunduh di sini)
Pendahuluan
Pemahaman masyarakat
terhadap teks-teks agama (al-Qur’ān-hadis), mengakibatkan polarisasi pemeluk
agama menjadi dua (2) kutub ekstrem. Satu pihak mengunggulkan teks tanpa
melibatkan akal atau nalar, sedangkan kubu satunya mengunggulkan akal daripada
teks. Berlebihan pada salah satu kutub
tentu tidak dibenarkan, alias dapat mengakibatkan pertikaian sosial dengan
mengatasnamakan “panji agama”. Salah satu contohnya dapat kita lihat konflik
agama di Mesir, India, Aljazair, Prancis, khususnya “perang panjang” antara
Israel-Palestina. Sebab itu dibutuhkan
suatu atmosfer dengan nuansa indah dan penuh cinta di masyarakat. Di sinilah
pentingnya sosok “peacemaker” sebagai pilar perdamaian dunia, sosok yang mampu
mengonstruksi atmosfer indah dan penuh cinta di masyarakat. Itulah, peacemaker
dari Turki, Muhammad Fethullah Gulen. Ia menciptakan dialog yang membangun
(constructive), menarasikan agama sebagai wadah persatuan, mencari titik temu
dari masing-masing kepercayaan yang dianut individu. Sebab bagi Gulen, ketika
cinta (maḥabbah) sudah bermekaran di dalam hati seseorang, akan menumbuhkan
ranting spiritualitas dan hubungan sosial yang harmonis. Bukan malah saling
tuduh, saling menyerang, saling berburuk sangka. Sebagaimana firman Allah dalam
surah al-Baqarah ayat 148; fastabiqū al-khairāt. Jadi yang dilombakan itu
“melakukan kebaikan”, bukan “klaim kebenaran”. Adapun mengenai klaim kebenaran,
tidak menggunakan lafaz istabaqa (berlomba-lomba), tetapi tawāṣau (saling
mengingatkan, bukan memaksa); tawāṣau bi al-ḥaqq. Di sinilah pentingnya posisi Gulen, berfungsi
mengatasi kesalahpahaman atas nama kepercayaan seseorang terhadap agama. Lebih
spesifik, tentunya membangun—mental—moderasi beragama integratif di
tengah-tengah masyarakat, melalui pendidikan.
Biografi Fethullah Gulen
Muhammad
Fethullah Gulen yang dilahirkan di Erzurum, Turki, pada tanggal 27 April 1941,
memiliki orang tua bernama Ramiz dan Refia.
Fethullah Gulen dapat dikatakan seorang cendikiawan, pemikir, penulis,
penyair, opinikus, dan aktivis pendidikan Turki. Ia mendukung dialog antaragama
dan antarbudaya, ilmu pengetahuan, demokrasi, dan spiritualitas. Tidak itu
saja, namun Gulen juga sangat menentang kekerasan dan agama yang “disulap”
sebagai kendaraan (ideologi) politik.
Namun tidak heran, sebab, wilayah Erzurum sejak dulu, memiliki latar
belakang historis yang kental dengan tradisi keislaman. Misalnya, pengaruh para
‘ulamā’ sufi seperti al-Gazālī, Ibn ‘Arabī, ar-Rūmī, dan yang lainnya pada Abad
Pertengahan, termasuk praktik-praktik tarekat Naqsyabandiyyah yang berkembang
di wilayah tersebut. Dari situlah lahir ‘ulamā’ seperti Syaikh Osman Bektasi,
Syaikh Sa‘dī Effendi, Syaikh Ṣidqī Efendi, yang dengan mereka Gulen mempelajari
ilmu agama, bahasa Arab, dan al-Qur’ān. Sehingga di usia tujuh tahun, Gulen
berhasil menuntaskan hafalan Qur’ānnya. Fethullah Gulen memulai perjalanan
hidupnya sebagai dā‘ī ketika berusia empat belas tahun, dengan otodidak
mempelajari disiplin ilmu-ilmu yang lain, seperti ilmu sosial, geografi, kimia,
fisika, biologi, kesusastraan Timur-Barat, hingga filsafat. Peran para tokoh
pendahulunya sangat mempengaruhi Gulen—seperti Ibn ‘Arabī, ar-Rūmī, dan
lainnya—, namun dari semua tokoh yang ia kagumi, pijakan pemikirannya sebagian
besar dipengaruhi oleh Sa‘īd Nūrsī beserta para pengikutnya. Kendati Gulen
sendiri tidak pernah bertemu secara langsung dengan Sa‘īd Nūrsī, tetapi
serpihan-serpihan pikiran Nursi sangatlah inspiratif, bagi Gulen. Salah satu
sumber mengatakan, ketika ayah Gulen sedang berbincang bersama kawan-kawannya,
ia selalu membawa konsepsi pemikiran Nūrsī dalam usaha melengserkan rezim Kemal
Attaturk. Sehingga hal demikian menjadi lekuk ingatan dan inspirasi pikiran
Gulen di kemudian hari.
Sekitar tahun
1970, Fethullah Gulen mendorong penerapan "representasi proporsional"
dalam bidang pendidikan. Selama ini, lembaga-lembaga pendidikan di Turki
cenderung memihak siswa-siswa kaya dari daerah perkotaan. Namun dengan
mendirikan beasiswa, pusat bimbingan belajar, dan asrama mahasiswa, Fethullah
Gulen berhasil menginspirasi para pengusaha dan banyak sukarelawan untuk
membantu siswa dari pedesaan yang kurang mampu secara finansial dan tidak
memiliki hak istimewa untuk mengakses pendidikan, sehingga mengubah struktur
sosial Turki. Antara tahun 1980 dan 1990-an, Gulen menghidupkan kembali tradisi
dialog antaragama di Turki, yang sempat “terkubur” selama tahun-tahun penuh
masalah di awal abad ke-20. Ia secara tegas mengambil sikap pro demokrasi, pro
ilmu pengetahuan, dan antikekerasan pada momen-momen krusial dalam sejarah
Turki. Gulen Movement (Gerakan Gulen)
telah memekar menjadi gerakan sosial global berbasis agama. Di
wilayah-wilayah konflik seperti Filipina, Macedonia, Afghanistan, Irak, dan Bosnia,
ratusan sekolah yang terinspirasi oleh Gulen telah menjadi benteng kerukunan
antar agama dan etnis, sementara organisasi bantuan yang berafiliasi dengan
Gerakan Gulen telah berperan penting dalam memberikan bantuan kepada korban
bencana di Asia Tenggara dan Afrika. Di Gulen Institute, kami menghargai
dedikasi para sukarelawan dari Gerakan Gulen yang berbagi visi yang sama dengan
kami. Selain mendukung pendekatan inovatif terhadap pendidikan, resolusi
konflik, dan penelitian kemiskinan, Gulen Institute berharap dapat memberikan
pemahaman kritis terhadap aktivitas komunitas global ini. Pertautan dimensi
akademik, spiritual, gerakan sosial, dan lainnya dapat dilihat pada acuan utama
artikel akademik Fethullah Gulen, seperti; How Far They Have Traveled?, Turkish
Schools Offer Pakistan a Gentler Vision of Islam, The Gulen Movement: A Modern
Expression of Turkish Islam, dan Superheroes Inspired by Quran Nothing to Fear.
Moderasi Beragama Integratif
Gulen
Mengenai
keterangan moderasi beragama integratif, setidaknya landasannya—filsafat
ilmu—dapat dimulai dari pemetaan diferensiasi term, yaitu apa bedanya antara
“moderasi”, “beragama”, dan “moderasi beragama”. Pertama, “moderasi” bersumber
dari bahasa Latin “moderātio”, bermakna ke-sedang-an (tidak kelebihan dan tidak
kekurangan). Paralel dengan itu, moderasi juga dapat dimaknai sebagai
penguasaan diri (dari sikap sangat kelebihan dan kekurangan). Kedua, mengenai beragama. “Beragama” bisa
dimaknai sebagai orang yang menganut suatu agama (secara umum), tidak spesifik
pada agama tertentu. Jadi, arti beragama
adalah individu yang memeluk/taat kepada suatu kepercayaan agama. Ketiga,
apabila “moderasi” bermakna ke-sedang-an, dan “beragama” diartikan sebagai
orang yang memeluk suatu kepercayaan agama, maka “moderasi beragama” dapat
dipahami sebagai sikap tengah-tengah atau kesedangan dalam melaksanakan
praktik—peribadatan—atas kepercayaan agama seseorang. Sembari di sisi lain
menghargai pengalaman keagamaan dan nilai kebenaran yang dirasakan dan diyakini
oleh penganut agama lainnya (interfaith dialogue). Dalam konteks kajian
moderasi beragama, terdapat tiga model keberagamaan manusia, yakni
subjektivitas atau al-‘Aql al-Lāhūtī as-Siyāsī, objektivitas atau al-‘Aql
at-Tārīkhī al-‘Ilmī, dan intersubjektivitas atau al-‘Aql al-Jadīd al-Istiṭlā‘. Atas dasar itu, moderasi beragama dapat
diposisikan pada model keberagamaan intersubjektivitas, alias moderat.
Sebagaimana ungkapan Fethullah Gulen; “Be so tolerant that your bosom becomes
wide like the ocean. Become inspired with faith and love of human beings. Let
there be no troubled souls to whom you do not offer a hand and about whom you
remain unconcerned.” (Jadilah orang yang penuh toleransi sehingga dada anda
menjadi lebar seperti lautan. Jadilah terinspirasi dengan iman dan kasih kepada
manusia. Janganlah ada jiwa-jiwa yang bermasalah yang tidak anda bantu dan yang
tidak anda pedulikan).
Dengan mengutip Aslandogan dan Cetin—juga sebagaimana dikutip oleh Amin Abdullah—, kiranya ada empat pilar penyangga—sebagai universal spirituality—, alias dimensi yang mendorong “filsafat” dan “praktik pendidikan” sekolah-sekolah Gulen. Pertama, paradigm shift. Artinya memerlukan perubahan paradigma dengan cara memberi penghargaan yang tinggi terhadap usaha pendidikan (seperti guru atau pendidik) dan meningkatkan derajat keduanya ke tingkat dan status yang lebih tinggi atau mulia. Gulen melihat, bahwa hanya melalui pendidikanlah jalan terakhir untuk memecahkan berbagai problematika masyarakat dan kebutuhan humanitas. Guru-guru yang mampu mempraktikkan dan mengejewantahkan “nilai-nilai universal” dalam pendidikan, pasti sangat diminati dan disukai para orang tua murid di berbagai negara. Mereka-mereka itulah para pelaku utama dari gerakan sipil. Kedua, altruism. Yakni “kesediaan” dan “kemampuan” untuk mendahulukan kepentingan orang lain, berkorban untuk kepentingan orang dan kelompok lain, menghilangkan rasa “ke-aku-an” yang berlebihan (selfish) dan membangun semangat pelayanan sosial dalam wilayah pendidikan. Ketiga, social dimension. Dimensi sosiallah yang mampu menghimpun akumulasi sinergi para guru/pendidik, orang tua murid, sponsor, dan para pelaku bisnis dalam hubungan segitiga yang kokoh untuk pelayanan kemanusiaan tanpa kenal pamrih melalui jalur pendidikan. Dari sini, para pegiat gerakan ini (Gulen Movement) tidak sempat memikirkan bagaimana membenci, apalagi menabur kebencian terhadap orang dan kelompok lain. Pada hari libur sekolah, guru-guru sekolah ini diminta mengunjungi rumah kediaman wali murid sekolah untuk silaturrahmi. Keempat, epistemological dimension. Dimensi epistemologi keilmuan, yang mampu menyintesiskan antara “hati” (heart/qalb) dan “pikiran” (tought/‘aql), antara “tradisi” dan “modernitas”, antara “intelektual” dan “spiritual”. Pendekatan pendidikan yang ramah dengan sains dan teknologi dan hangat dan bersahabat dengan budaya dan kepercayaan masyarakat secara umum. Keempat pilar tersebut saling terhubung secara kokoh (tadākhul al-ma‘ārif) dan tidak berdiri sendiri-sendiri (nihāyat at-takhaṣṣuṣ). Pertautan antara “religion” (spiritual) dan “science” (ilmu) itulah yang membentuk model “integrasi” dalam merajut perdamaian dunia melalui moderasi beragama.
Masih menurut Gulen, sekolah-sekolah agama yang tidak mengikuti ajaran dan prinsip-prinsip agama pada dasarnya bukanlah sekolah maupun surau. Lembaga apapun yang mengabaikan ilmu dan menolak agama serta otoritasnya sebenarnya, adalah lembaga yang menyebarkan kerusakan dari dalam. Selama lembaga tersebut tidak memperbarui diri (yatafaqqahu) dan kembali ke jati dirinya (fī ad-dīn), kerusakan akan terus berlanjut. Akibatnya, kerusakan yang dimulai dari fondasinya akan menyebar ke dinding dan atapnya. Sekolah dan madrasah merupakan fondasi kehidupan sosial. Jika fondasinya tidak kuat, negara tidak akan mampu berdiri kokoh. Inilah yang terjadi pada Daulah ‘Uṡmānī. Jadi, bukan “sekolah-sekolah agama” dan “masjid” yang menghancurkan Daulah ‘Uṡmānī, justru mereka adalah kekuatan yang menjaga dan mendukungnya. Tetapi ketika sekolah-sekolah agama dan masjid runtuh, kekaisaran yang bergantung padanya juga ikut runtuh. Akhir yang menyakitkan ini merupakan akhir yang alami. Sebagai penutup, Gulen mengutip QS. ar-Ra‘d ayat 11, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah kondisi suatu kaum sebelum mereka sendiri mengubah kondisi diri mereka”.

Komentar
Posting Komentar