Pemikiran Muslim Progresif Omid Safi: Ketika Agama Berhenti di Kerudung
Oleh Ijlal Sasakki
Tulisan ini mengulas gagasan pemikiran Omid Safi tentang Muslim Progresif, yang merupakan paradigma baru dalam dunia pemikiran Islam. Konsep ini dirancang untuk memberikan alternatif bagi mereka yang merasa terkekang oleh budaya teks (hadlarah an-nassh) dan bertujuan untuk merombak paradigma sosial yang ada, dengan tujuan membuka ruang baru dalam memahami ajaran agama dengan wawasan keagamaan yang lebih luas. Muslim Progresif, menurut Safi, bukan hanya tentang merombak struktur sosial yang ada, tetapi juga tentang memperluas pandangan dan pemahaman terhadap Islam. Dalam kajian ini, kita akan membahas secara detail tentang gagasan-gagasan Omid Safi mengenai Muslim Progresif, termasuk nama, agenda, pendekatan, metode, dan kaitannya dengan tren-tren Islam kontemporer untuk mewujudkan visi rahmatan lil’alamin.
Muslim Progresif adalah paradigma baru
dalam pemikiran Islam yang diperkenalkan oleh Omid Safi. Nama ini menggambarkan
gerakan intelektual dan sosial yang bertujuan untuk memperbarui pemikiran Islam
dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat modern. Istilah
"progresif" di sini menunjukkan upaya untuk bergerak maju,
beradaptasi dengan perubahan zaman, sambil tetap berpegang pada nilai-nilai
Islam.
Ada tiga agenda besar atau misi dari
Muslim Progresif, yang dirumuskan oleh Omid Safi. Pertama, mewujudkan keadilan
sosial, yang berarti memperjuangkan kesetaraan dan keadilan bagi semua anggota
masyarakat. Kedua, mewujudkan kesetaraan gender, yang mencakup upaya untuk
mengatasi ketidaksetaraan dan diskriminasi terhadap perempuan dalam masyarakat
Islam. Dan ketiga, menerima pluralitas, yang mengharuskan umat Islam untuk
mengakui dan menghargai keragaman dalam keyakinan, budaya, dan praktik
keagamaan.
Pendekatan yang dilakukan oleh Omid
Safi dalam memperkenalkan konsep Muslim Progresif adalah Multiple Critique atau
kritik ganda. Pendekatan ini melibatkan penggunaan berbagai perspektif dan
metodologi dalam menilai ajaran dan praktik Islam. Dengan menggunakan kritik
ganda, Safi mengajak umat Islam untuk melihat ajaran agama mereka dengan mata
yang lebih kritis dan terbuka, sehingga mampu mengakomodasi perubahan zaman
tanpa mengabaikan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam yang mendasar.
Dalam upayanya membandingkan Muslim
Progresif dengan tren-tren Islam kontemporer, Omid Safi berpendapat bahwa
paradigma ini memiliki perbedaan signifikan dengan pendekatan Islam yang lebih
tradisional. Dengan menggunakan paradigma Muslim Progresif, Safi ingin
menegaskan bahwa Islam dapat berkembang dan bertahan dalam masyarakat modern
dengan tetap mempertahankan nilai-nilai fundamentalnya. Safi mengidentifikasi
tren-tren Islam kontemporer dan menunjukkan bagaimana Muslim Progresif berbeda
darinya. Salah satu kontribusi utama dari Muslim Progresif adalah memberikan
ruang bagi umat Islam untuk berpikir secara kritis dan kreatif tentang
cara-cara baru untuk menginterpretasikan ajaran agama mereka dalam konteks
zaman now.
Kaitannya dengan visi rahmatan
lil’alamin, konsep Muslim Progresif diarahkan untuk mewujudkan visi tersebut
melalui upaya menciptakan masyarakat yang adil, setara, dan inklusif. Dengan
fokus pada keadilan sosial, kesetaraan gender, dan penerimaan terhadap
pluralitas, Muslim Progresif berusaha untuk menjadi bagian dari solusi atas
berbagai tantangan sosial, politik, dan budaya yang dihadapi umat Islam dan
masyarakat secara luas.
Dengan paradigma Muslim Progresif atau
yang lebih tepat disebut Ijtihadi Progresif, Omid Safi mengajak umat Islam
untuk secara jujur melakukan
kritik terhadap diri sendiri dan orang lain serta berupaya menafsir ulang
ajaran agama agar bisa menjawab kebutuhan masyarakat modern tanpa menafikan
batas-batas tradisi Islam. Ini merupakan sebuah langkah maju dalam memperbarui
dan memperkaya pemahaman tentang Islam dalam konteks zaman sekarang.
Gagasan Omid Safi tentang Muslim
Progresif menawarkan alternatif yang menarik bagi umat Islam yang ingin tetap
relevan dalam masyarakat modern. Dengan menekankan pada keadilan sosial,
kesetaraan gender, dan penerimaan terhadap pluralitas, Muslim Progresif membuka
jalan bagi pembaruan dan inovasi dalam pemikiran dan praktik keagamaan Islam.
Dengan demikian, konsep ini memiliki potensi untuk menjadi kekuatan positif dalam
mewujudkan visi rahmatan lil’alamin.
Dalam kasus sekarang, Pemikiran Omid
Safi tentang Muslim Progresif menjadi relevan ketika kita mempertimbangkan
konteks di mana agama sering kali dianggap hanya sebagai serangkaian praktik
atau simbol fisik, tanpa memperhatikan dimensi spiritualitas individu. Dalam
banyak kasus, agama diidentifikasi hanya melalui tanda-tanda fisik seperti
kerudung, pakaian, atau ritual, sementara aspek spiritualitas dan nilai-nilai
dalam ajaran agama sering kali diabaikan atau dianggap kurang penting. Dalam
konteks ini, gagasan Muslim Progresif oleh Omid Safi menawarkan alternatif yang
menarik dengan menekankan pentingnya memahami agama sebagai sebuah jalan
spiritual yang juga mencakup nilai-nilai sosial, keadilan, dan kesetaraan.
Referensi
Abdullah, M.Amin, (2011),
Studi Agama:Normativitas atau Historisitas?,Cetakan V, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta.Arkoun,
Mohammad (2005). “Dialog
Menuju Islam Kontemporer Antar Agama†. Yogyakarta: Pustaka pelajar.Majid,
Nurcholis (2008).
Doktrin Islam dan
Peradaban. Jakarta: Paramadina.---------------------- (2001).
Melintas, Melintasi Batas
Agamaâ . Dalam Pasing Over, Melintasi Batas Agama ed. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.Reed, Evelyn (1993).
Evolusi Perempuan, Dari
Klan Matriachal ke Keluarga Patriaalchal. New York, London, Montreal, Sidney:
Tathefiner.
Rahman, Fazlur (1985).
Pendekatan Islam dalam Studi Keagamaan. Dalam Pendekatan Islam dalam Studi
Keagamaan, ed.
Richard C. Martin, Tucson:
Pers Universitas Arizona.Safi, Omid. Jalan Menuju Perdamaian yang Berakar pada
Keadilan,3. Artikel diunduh dari
http://www.beliefnet.com/story/162/story_16208_3.html.----------,
Tantangan dan Peluang bagi Muslim Progresif di Amerika Utara, dalam Muslim Public Affairs Journal (Januari 2006).

Komentar
Posting Komentar