Gerakan Lingkungan Berbasis Agama dalam Pemikiran Ibrahim Abdul Matin
Oleh Jihan Nur Salsabila
Perilaku konsumtif nampaknya telah
melunturkan sekat antara keinginan dan kebutuhan yang sebenarnya. Manusia
modern seringkali berlebihan dalam melakukan tindakan konsumtif demi mencapai
kebahagiaan yang sebenarnya hanyalah kesemuan belaka. Terdapat dua hal
fundamental terkait perilaku konsumtif, yaitu tingginya keinginan mengkonsumsi
yang mengarah ke pemborosan serta inefisiensi dan konsumtif yang dilakukan
berdasarkan pencapaian kepuasan yang bukan kebutuhan utama. Tindakan konsumtif
lekat kaitannya dengan proses produksi yang merupakan pemberian nilai terhadap
sesuatu. Dalam hal ini, produksi dan konsumsi saling berkelindan dan
mempengaruhi satu sama lain sebab kedua proses tersebut tidak lepas dari
manusia.[1]
Ibrahim Abdul Matin dalam karyanya telah menyinggung hal tersebut, asumsi bahwa
barang-barang memberi nilai pada seseorang adalah sebuah kebohongan. Anggapan
tersebut hanya akan memicu pola konsumtif pada diri seseorang.[2]
Lebih jauh, tindak konsumtif ini oleh Matin
dihubungkan ke dalam persoalan sampah. Pola konsumtif yang terus menerus
menghasilkan sampah berimplikasi pada kerusakan tanah, lautan, udara, dan
tentunya tubuh manusia.[3]
Dalam merespon permasalahan sampah, matin menekankan gagasannya pada ajaran
agama Islam yang menekankan tentang kepedulian terhadap alam. Pemikiran Matin
tentang penjagaan bumi ini direpresentasikan dalam sebuah konsep yang dikenal
dengan istilah agama hijau (greendeen). Dalam bahasa arab istilah “deen”
merujuk pada pengertian agama, kepercayaan, dan jalan atau cara hidup.[4]
Agama hijau (greendeen) merupakan upaya untuk mempraktikkan ajaran agama
Islam sekaligus mengafirmasi hubungan integral antara keimanan dengan lingkungan
atau ruang hidup.[5]
Agama Hijau (greendeen) yang dikembangkan oleh Matin sangat menyoroti
kerja-kerja berkelanjutan (sustainable nature). Dalam membangun
perspektif agama hijau (greendeen), Matin menjadikan hadis sahih muslim
tentang bumi adalah masjid[6]
sebagai awal pemikirannya. Menyatakan bahwa bumi adalah masjid menggambarkan
bahwa bumi itu suci dan menjadi tempat untuk bersujud.[7]
Dari hadis tersebut, Matin mengimplikasikan
bahwa bumi sebagai masjid, tempat suci, harus selalu dijaga. Dalam penjagaan
bumi inilah yang kemudian diaktualisasikan ke dalam sebuah konsep agama hijau (greendeen).
Terdapat enam prinsip dalam agama hijau (greendeen), di antaranya
kesatuan antara Allah dan makhluk (tauhid), tanda-tanda Allah (ayat),
manusia sebagai khalifah, kepercayaan Allah terhadap makhluk (amanah),
keadillan (‘adl), dan keseimbangan (mizan).[8]
Pada prinsip yang pertama, tauhid, dipahami
bahwa segala sesuatu berasal dari Allah, segala hal yang eksis berasal dari
sumber yang sama yaitu Allah sebagai pencipta.[9]
Pemahaman tentang semangat tauhid merepresentasikan kesatuan yang fundamental
antara Tuhan dengan segala sesuatu yang ada di alam. Kesadaran akan hal
tersebut memperlihatkan bahwa sebagai satu kesatuan, antara Tuhan, manusia, dan
alam selalu berkelindan satu sama lain. Pandangan tauhid yang berarti pengesaan
Tuhan harus dieksplorasi sehingga mampu diterapkan dalam segala lini kehidupan.[10]
Ibrahim Abdul Matin mengemukakan bahwa dalam struktur dasar, spiritual, dan
level sains, segala sesuatu berasal dari elemen terkecil (atom) yang sama, yang
memuat kilatan cahaya. Cahaya inilah bentuk dari ekspresi kesatuan Tuhan dan
makhluk-Nya.[11]
Prinsip kedua, ayat berarti melihat
kekuasaan Tuhan melalui tanda-tanda yang ada di al-Qur’an dan alam. Tanda
kebesaran Tuhan melalui alam terekspresi dalam hal-hal yang eksis, seperti
pohon, gunung, sungai, dan sebagainya. Dari hal tersebut dapat dipahami bahwa
semua yang eksis berasal dari Tuhan yang menjadi bukti nyata kebesaran serta
keberadaan Tuhan.[12]
Menemukan keberadaan Tuhan melalui tanda-tanda yang tersebar di seluruh alam
semesta juga menandai adanya entitas ciptaan Tuhan yang berpikir. Dengan
demikian, perenungan terhadap tanda Tuhan berarti juga perenungan terhadap
kesejatian diri yang menjadi bagian dari keindahan dan kekuasaan Tuhan.[13]
Prinsip ketiga, khalifah yang bermakna
peran yang disematkan kepada manusia sebagai penjaga di bumi. Peran ini berarti
manusia harus melakukan penjagaan, perlindungan, serta pengelolaan terhadap
alam secara berkelanjutan. Oleh sebab itu, pertanyaan yang diajukan oleh Matin
dalam memahami prinsip khalifah ini yaitu “Will we leave the planet better
than we found it?”. Pertanyaan itu akan merefleksikan sejauh mana seorang
manusia telah mengaktualisasikan perannya sebagai khalifah. Khalifah di sini
adalah gelar yang disandarkan kepada manusia yang mampu menjaga bumi sekaligus
menjadikan bumi sebagai tempat yang lebih baik. Prinsip ini juga berhubungan
dengan penciptaan manusia dalam pandangan Islam yang menyatakan bahwa manusia
tercipta dari tanah dan dibekali dengan akal, sehingga manusia menjadi makhluk
yang paling sempurna dari makhluk lainnya. Manusia yang tercipta dari tanah
mengimpilkasikan bahwa manusia tercipta dari saripati bumi, sehingga sudah
seyogyanya manusia bertanggung jawab dalam penjagaan bumi.[14]
Prinsip keempat, amanah berarti kepercayaan
Tuhan yang diberikan kepada manusia dalam menentukan pilihan. Dalam konteks
ini, pilihannya meliputi penjagaan terhadap bumi, apakah manusia memilih untuk
menjaga bumi atau tidak. Namun, setiap pilihan selalu beriringan dengan
konsekuensi yang akan dipertanggungjawabkan, sehingga manusia dituntut bijak
dalam memilih. Apabila didasarkan pada agama hijau (greendeen),
kepercayaan (amanah) Tuhan yaitu memilih pilihan dalam penjagaan alam.[15]
Prinsip kelima, ‘adl berdasarkan
greendeen berarti kesadaran bahwa dalam melihat alam harus melihat keadilan
bagi alam dan seluruh penghuninya. Keadilan alam terimplikasikan melalui
cara-cara dalam memperlakukan alam, sedangkan keadiln bagi penghuninya bermakna
bahwa tiap-tiap individu berhak dan berkesempatan dalam pemanfaatan sumber daya
alam secara setara.
Prinsip keenam, mizan diartikan bahwa
segala sesuatu diciptakan dalam keteraturan dan keseimbangan. Dalam agama hijau
(greendeen) prinsip mizan menegaskan bahwa semua ciptaan harus selalu
dalam keseimbangannya, sehingga penjagaan terhadap alam menjadi hal yang
penting. Pandangan tentang keteraturan dan keseimbangan terhadap alam diartikan
sebagai perlakuan yang bijak kepada alam serta segala sesuatu yang ada di
dalamnya.
Keenam prinsip di atas dijadikan menjadi
basis nilai dalam menciptakan dan menumbuhkan gerakan lingkungan greendeen.
Dalam pemikiran Ibrahim Abdul Matin, keenam prinsip tersebut tidak hanya
terimplikasi dalam ranah personal saja, tetapi juga kelompok, yang kemudian
menciptakan sebuah aksi nyata. Dalam membangun gerakan greendeen,
terdapat beberapa cara, di antaranya:
1. We need to
tell our story, cara ini dimulai oleh seorang environmentalist. Dengan menceritakan
kisah atau pengalaman dapat menimbulkan inspirasi dan membangun kesadaran orang
lain tentang pentingnya pelestarian alam. Inspirasi ini harus berkelanjutan,
artinya satu orang yang terinspirasi harus menginspirasi orang lain.
2. We need to
get educated, apabila seseorang telah memiliki kesadaran lingkungan, maka ia harus
mendapatkan edukasi lebih lanjut. Dalam hal ini, edukasi terkait pengolahan dan
pengelolaan dalam upaya pelestarian alam. Edukasi ini sifatnya juga
berkelanjutan seperti inspirasi.
3. We need to
connect with people of other faith, dalam hal ini berkoneksi dengan orang atau kelompok
lain menjadi sangat penting untuk meningkatkan kekuatan gerakan. Berkoneksi
juga sebagai bentuk dari satu kesatuan sebagai kunci dalam kehidupan yang
berkelanjutan. Konektivitas ini tidak hanya dibangun oleh sekelompok muslim
saja, tetapi juga dengan pemeluk agama lain. Selain itu, keberlanjutan dari
konektivitas ini juga harus diwariskan ke generasi selanjutnya.
4. We need to
be smart, berani
untuk mencoba berbagai upaya dalam melakukan upaya pelestarian. Dalam hal ini,
gerakan greendeen menyoroti cara-cara efisien dalam melakukan gerakan
lingkungan.
Referensi
’Abdul
Mannan ’Omar. “Dictionary Of The Holy Qur’an Arabic Words - English Meanings.”
Delaware: NOOR Foundation, 2010.
Fatoni,
Ahmad. “Islam and the Environment.” Al-Afkar, Journal For Islamic Studies 7,
no. 2 (18 April 2024): 320–31. https://doi.org/10.31943/afkarjournal.v7i2.1123.
Matin,
Ibrahim Abdul. Greendeen: What Islam Teaches About Protecting the Planet. 1 ed.
2010: Berret-Koehler Publisher, t.t.
Rasyid,
Arbanur. “Perilaku Konsumtif Dalam Perspektif Agama Islam.” Yurisprudentia:
Jurnal Hukum Ekonomi 5, no. 2 (11 Desember 2019): 172–86. https://doi.org/10.24952/yurisprudentia.v5i2.2128.
Solichin,
Moh Badrus, dan Moh David Bahtiar. “Deconstructing The Concept of ‘Green Deen’
By Abdul Martin and Its Implementation for Boarding Schools in The City of
Kediri.” International Conference on Education, 13 November 2023, 601–7
[1] Arbanur
Rasyid, “Perilaku Konsumtif Dalam Perspektif Agama Islam,” Yurisprudentia:
Jurnal Hukum Ekonomi 5, no. 2 (11 Desember 2019): 4–6,
https://doi.org/10.24952/yurisprudentia.v5i2.2128
[2] Ibrahim Abdul
Matin, Greendeen: What Islam Teaches About Protecting the Planet, 1 ed. (2010:
Berret-Koehler Publisher, t.t.), 22.
[3] Matin, 26.
[4] ’Abdul Mannan
’Omar, “Dictionary Of The Holy Qur’an Arabic Words - English Meanings”
(Delaware: NOOR Foundation, 2010), 185.
[5] Matin,
Greendeen: What Islam Teaches About Protecting the Planet, 21.
[6] “……. Di mana
pun kamu berada, ketika waktu salat tiba, maka salatlah sebab bumi ini adalah
masjid” – Sahih Bukhari Muslim, 4: 1057.
[7] Matin,
Greendeen: What Islam Teaches About Protecting the Planet, 2
[8] Moh Badrus
Solichin dan Moh David Bahtiar, “Deconstructing The Concept of ‘Green Deen’ By
Abdul Martin and Its Implementation for Boarding Schools in The City of
Kediri,” International Conference on Education, 13 November 2023, 2
[9] Matin,
Greendeen: What Islam Teaches About Protecting the Planet, 6.
[10] Ahmad Fatoni,
“Islam and the Environment,” Al-Afkar, Journal For Islamic Studies 7, no. 2 (18
April 2024): 4, https://doi.org/10.31943/afkarjournal.v7i2.1123.
[11] Matin,
Greendeen: What Islam Teaches About Protecting the Planet, 6.
[12] Solichin dan
Bahtiar, “Deconstructing The Concept of ‘Green Deen’ By Abdul Martin and Its
Implementation for Boarding Schools in The City of Kediri,” 3.
[13] Matin,
Greendeen: What Islam Teaches About Protecting the Planet, 6–7.
[14] Matin, 7–8.
[15] Matin, 8–9.

Komentar
Posting Komentar