Liberation Theology Hamid Dabashi: Wacana Pembebasan Pluralistik Post-Ideologis

 Oleh Ahmad Fauzi


(Sumber: rakyatpost,id)


Mungkin tokoh yang satu ini masih terbilang asing terutama dalam kancah pemikiran di Indonesia. Belum banyak tokoh-tokoh intelektual yang membahas Hamid Dabashi, seorang pemikir dan cendikiawan muslim Iran dalam bidang sosial. Saat ini ia merupakan seorang Profesor di bidang studi Iran dan Sastra di Universitas Columbia. Ia meraih gelar doktornya dengan double degree di Universitas Pensylvania pada tahun 1984, dan dilanjutkan dangan studi pasca doktoral di Universitas Harvard dengan disertasi “Teori Otoritas Karismatik Max Weber”.

Tokoh kelahiran 1951 ini tumbuh dari keluarga yang cukup unik, Ibunya seorang Syii yang saleh dan ayahnya seorang tokoh pergerakan kiri yang cukup santai jika berbicara soal agama. Ketika ibunya membacakan ayat suci al-Qur’an, ayahnya duduk mengopi sambil membaca koran, hal inilah yang akan terasa dalam pokok perjuangan pemikiran yang ia rintis hingga masa kini. Pada masa kecilnya Dabashi mempelajari keislaman melalui ibunya, bahkan dibawakan seorang guru khusus untuk mengajarinya hal-hal terkait keagamaan (khususnya teologi Syiah). Namun melalui penuturan sahabatnya, Edward Said, Dabashi merupakan seorang Islam informal, atau sudah meninggalkan hal-hal formal dalam agamanya.

Liberation Theology

            Liberation Theology atau teologi pembebasan bukan menjadi satu pembahasan yang mengagetkan pada saat ini. Terlebih sudah beberapa tokoh terkenal dalam kancah pemikiran Islam di Indonesia seperti Asghar Ali Engineer, Farid Esack, dan lain sebagainya yang sudah mengenalkan lebih dulu terhadap teologi pembebasan. Namun Hamid Dabashi memiliki satu pandangan teologi pembebasan yang sedikit berbeda dengan para tokoh yang disebutkan sebelumnya. Dabashi mengawali pemikirannya dengan membeberkan inrelevansi bineritas islam-barat yang kerap kali menjadi sebuah patokan dalam peradaban saat ini. Dabashi mengatakan bahwa pasca peristiwa 9/11 hal tersebut sudah tidak lagi relevan, kita sebagai umat muslim harus beranjak dari pemikiran-pemikiran seperti itu. Dabashi menyebutnya post-ideologis.

            Dabashi menyatakan bahwa konfirmasi mengenai islam-barat dari tubuh islam sendiri merupakan sebuah pengakuan atas ketertinggalan dan ketidak mampuan islam bersaing dalam peradaban saat ini. Islam dianggap sebagai liyan (the other) dan menjadi lawan dari barat itu sendiri, dan hal tersebut tidaklah benar. Istilah “Barat” merupakan bias imajinatif yang dibuat untuk menghantui Islam atas ketidakberdayaannya menghadapi kemajuan. Padahal “barat” bukanlah satu pakem terkait geografis maupun ideologis, kita mengetahui negara-negara yang biasa disandarkan diksi barat di dalamnya memiliki perbedaan dan konfrontasi antara satu dengan lainnnya. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah penghilangan bineritas islam-barat dalam kerangka berpikir umat muslim.

            Setelah memahami dominasi barat merupakan sebuah ilusi, Dabashi menegaskan bahwa lawan nyata bagi umat islam saat ini adalah Kapitalisme global yang kian hari menyudutkan kaum-kaum yang direntankan oleh mereka. Sehingga kita perlu unutk membuat satu Masyarakat kosmopolitan yang bersifat plural, karena Islam ideologis dianggap terlalu eksklusif. Namun perlu digaris bawahi pula bahwa Teologi pembebasan merupakan alat politik bukan sebagai pembaruan islam, seperti beberapa teologi pembebasan sebelumnya. Hal inilah yang menjadi kritik Dabashi terhadap teologi pembebasan “tradisional” yang dianggap terlalu esensialis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Fikih Lingkungan Hidup (Fiqh al-Bī‘ah) Ali Yafie sebagai Pandangan Hidup Berkelanjutan

Teori Double Movement Fazlur Rahman: Mencari Hubungan antara Teks dan Konteks

Qira’ah Mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir: Reinterpretasi Teks-teks Relasi Perempuan dan Laki-laki